January 29, 2023

Kusman menunjukkan produk gitar buatannya yang berbahan dasar bambu (Bayu/Memo)

Membuat alat musik bukan perkara membalikkan telapak tangan, mampu mengolah atau membentuk kayu saja tidak cukup untuk bisa menghasilkan alat musik yang bersuara merdu. Diperlukan kemampuan khusus dan perhitungan-perhitungan tertentu sehingga bisa menghasilkan alat musik yang berkualitas.

Salah satu orang yang memiliki keahlian ini adalah Kusman, warga Kota Kediri. Dia mampu membuat gitar, bass, biola, hingga cello secara manual tanpa menggunakan mesin.

Dia bercerita semasa anak-anak alat musik merupakan suatu hal yang sangat mahal untuk bisa dinikmati oleh kalangannya. Kusman ingat betul harga gitar pada saat itu yang paling bagus Rp 50.000, sedangkan yang standar berkisar di harga Rp 1.500. Namun toh dirinya juga tetap tidak bisa membeli gitar dengan harga tersebut.

“Itu sekitar tahun 70-an, saya belajar musik juga secara otodidak dengan berkumpul bersama teman-teman yang saat itu senang bermain musik,” ujar Kusman saat ditemui di di Banjaran Gang 1, Kota Kediri, tempat produksinya.

Hal yang membuatnya memutuskan untuk belajar membuat alat musik gitar sendiri adalah rasa ketakutan ketika menggunakan gitar dari milik temannya. Karena kalau ketika terjadi kerusakan pasti tidak akan mampu untuk menggantinya.

Baca Juga :   Pengabdian Anggota Tim Satgas Bencana Polres Trenggalek, Tinggalkan Keluarga demi Misi Kemanusiaan 

Berbekal keyakinan dan keinginan yang kuat dirinya mulai belajar membuat gitar sendiri. Bermodalkan alat seadanya dia mulai mencoba untuk membuat gitarnya sendiri.

Saat itu dia melihat ada gitar temannya yang rusak, gitar temannya itu merupakan buatan Meksiko yang sangat bagus kala itu. Setiap bagiannya ia perhatikan dan akhirnya ia coba buat dengan alat yang seadanya.

Usahanya itu tidak langsung berhasil perlu, satu atau dua kali percobaan sampai akhirnya dia bisa membuat gitarnya sendiri. Usman sendiri mulai menekuni pembuatan gitar sejak tahun 1977.

Dia menggunakan kayu atau triplek dengan jenis redwood dan tagwood yang masuk dalam kategori ekspor. Sehingga kualitas gitar yang ia hasilkan tidak main-main, selain mampu menghasilkan suara yang merdu juga memiliki ketahanan yang baik.

Gitar buatannya itu kemudian diminati oleh teman-temannya, melalui mulut ke mulut akhirnya gitar buatannya semakin dikenal oleh masyarakat luas. Saat itu pun perkembangan zaman masih belum maju seperti saat ini, tidak ada media sosial seperti Facebook Instagram maupun YouTube untuk memasarkan produknya.

Baca Juga :   Kelompok Mahasiswa Surabaya Raih Juara I Bidang Riset dan Inovasi di Jerman

Di tengah keterbatasan teknologi saat itu produknya sudah dikenal luas, bahkan sampai ke mancanegara. Banyak temannya yang membawa produknya ke luar negeri bahkan ada warga negara Indonesia yang baru mengenal produknya ketika dia berada di luar negeri.

Seiring perkembangan zaman kayu yang biasa ia gunakan mulai sulit ditemukan. Berdasarkan ingatannya, itu mulai terasa ketika tahun 1996, akhirnya dia harus memutar otak untuk bisa beralih ke bahan lain.

Pilihannya jatuh kepada bambu sebuah tanaman yang lazim kita temukan di Indonesia maupun di Kota Kediri. Namun idenya itu sempat mengalami banyak penolakan dari orang – orang di sekitarnya.

“Awalnya ide saya memanfaatkan bambu sempat dibilang gila oleh teman-teman. Karena menggunakan bambu untuk pembuatan gitar ini tidak lazim,” ujarnya sembari memperlihatkan produknya yang masih setengah jadi.

Baca Juga :   Review Pantai Gemah Tulungagung, Harga Tiket Super Murah, Bikin Liburan Makin Seru

Meski idenya dibilang gila oleh teman-temannya dia tidak menyerah, karena keyakinannya mengatakan bambu merupakan bahan yang cocok. Puluhan tahun pengalamannya dalam membuat gitar yang berkualitas membuat peralihannya tidak sulit, hanya dalam waktu sekejap dia bisa menghasilkan gitar maupun biola berbahan dasar bambu dengan kualitas yang mumpuni.

Menurutnya membuat gitar, biola, bass, maupun cello dengan bahan dasar bambu tantangannya ada pada pengeringan. Cara manual yang ia pertahankan, membutuhkan waktu sekitar 15 hari hanya untuk pengeringan. Dalam 1 bulan, dia biasa membuat 2 buah produk gitar.

Hingga saat ini, setidaknya sudah 12 tahun dia memanfaatkan bambu sebagai bahan dasar. Dengan memanfaatkan bambu produknya juga menjadi unik, setiap produknya memiliki motif yang berbeda dengan mempertahankan tekstur bambu. “Saya mempertahankan kualitas, jangan sampai mengecewakan konsumen,” ujarnya.

“Saya juga biasa mengerjakan sesuai dengan permintaan konsumen. Seperti pesanan biola yang saya terima, pemesannya menginginkan pegangannya berbentuk seperti pegangan keris, ini pesanan seniman asal jawa tengah,” pungkasnya.(Koran Memo)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *