January 29, 2023

Arif Pawoko saat melakukan proses pembuatan membran garam untuk difusi elektron dalam proses MFC.(ist)

Pemanfaatan energi terbarukan semakin meningkat akhir-akhir ini. Tingginya harga energi juga memunculkan beberapa ide untuk mencari alternatif baru. Salah satu mahasiswa di perguruan tinggi Surabaya mencoba memanfaatkan limbah industri gula sebagai alternatif baru.

Mahasiswa Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) mencoba memanfaatkan limbah industri gula untuk mengoptimalkan performa biolistrik. Inovasi garapan mahasiswa Departemen Teknik Kimia ITS ini diharapkan mampu memberikan solusi untuk mengurangi polusi limbah industri.

Ia adalah Arif Pawoko, mahasiswa ITS angkatan 2022, yang menggunakan ampas tebu yang sering menjadi limbah industri gula untuk mengoptimalkan kinerja biolistrik. Ide ini berawal dari keresahannya mengenai kurang dimanfaatkannya limbah industri gula tersebut serta semakin menipisnya stok energi di Indonesia.

Baca Juga :   Belajar Produksi Bola Dari Youtube, Omzet Tembus Rp 50 Juta Perbulan

“Isu energi terbarukan sendiri juga lagi gencar dikembangkan, jadi garis besar idenya juga dari sana,” jelasnya dilansir dari laman kominfo.jatimprov.go.id, Kamis (3/11).

Upaya pengolahan limbah yang dilakukan oleh Arif adalah dengan menjadikan ampas tebu sebagai substrat anoda dalam sistem Microbial Fuel Cell (MFC). MFC sendiri merupakan sistem yang memanfaatkan prinsip biolektrokimia untuk menghasilkan sumber listrik baru dari bahan alami.

Substrat ampas tebu sendiri dengan bantuan jamur Aspergillus niger dianggap mampu menggantikan Saccharomyces, mikroorganisme yang biasa digunakan dalam proses kerja sistem MFC. “Kalau menggunakan itu (Saccharomyces, red) biayanya lebih mahal, kalau ampas tebu kan lebih murah,” tambah mahasiwa asal Ngawi tersebut.

Baca Juga :   Wayang Potehi Tampil di Belanda

Arif mengungkapkan bahwa setelah melalui proses pengujian, performa biolistrik yang dihasilkan oleh temuannya ini menunjukkan peningkatan. Ia meyakini hasil ini membuktikan penggunaan substrat ampas tebu justru lebih unggul dan layak untuk dipertimbangkan dibanding dengan penggunaan mikroorganisme sebelumnya.

Berkat inovasinya tersebut, Arif berhasil menyabet juara ketiga di ajang Environmental Competition 2022 yang diselenggarakan oleh Sekolah Vokasi Institut Pertanian Bogor (IPB), Agustus lalu. Ia pun meyakini temuannya ini masih merupakan langkah awal, sehingga diharapkan ada pengembangan lanjutan nantinya. “Terutama untuk menjawab masalah limbah industri gula dan energi terbarukan,” tuturnya.

Baca Juga :   Jual Pohon Jati dan Sengon Ditangkap Polisi

Alumnus SMA Negeri 1 Kendal ini pun berharap bahwa hasil penelitian ini dapat dilirik oleh peneliti maupun perusahaan energi lain untuk dikembangkan pada skala yang lebih besar. “Dengan begitu, penelitian ini tidak hanya jadi arsip belaka melainkan berkontribusi nyata untuk masyarakat dan Indonesia,” pungkasnya.(Koran Memo)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *