January 29, 2023

Kamirin saat memilah bahan yang bagus untuk nantinya dia buat menjadi karya Kerajinan tangan (isal/memo)

Ditengah perkembangan zaman serba cepat, kemudahan bisa didapat dengan teknologi. Namun Kamirin, pembuat aksesoris seperti tas, dompet, dan sabuk itu tetap mempertahankan pengerjaan manual dengan tangan agar mendapatkan hasil yang otentik.

Sore itu, di Kelurahan Tertek, Kecamatan Tulungagung, Kabupaten Tulungagung, terdapat rumah dengan nuansa hijau yang dipenuhi tanaman di depannya. Menerawang sedikit lebih dalam di rumah tersebut, terdapat beberapa benda hasil kerajinan tangan yang terpajang.

Bahkan di rumah itu juga terdapat ruangan yang bertuliskan Showroom yang mana berisikan benda-benda hasil kerajinan tangan (kerajinan tangan). Itu merupakan kediaman Kamirin (52) yang sampai saat ini masih eksis menggeluti kerajinan tangan.

Bagi Kamirin, kerajinan tangan sudah layaknya separuh nyawanya. Bahkan nama edar produk-produk hasil karyanya yakni Crafi Rafi itu diambil dari nama kedua anaknya yakni Fira dan Rafi.

Dia merasa kerajinan merupakan warisan nenek moyang bangsa Indonesia yang tidak boleh punah. Hal ini membuatnya terpacu untuk terus menggenjot eksistensi kerajinan tangan.

“Sejak tahun 2010 saya mulai melestarikan kerajinan tangan atau Kerajinan tangan dan saya kenalkan ke generasi muda agar mau berupaya untuk terus menjaganya,” kata Kamirin, Kamis (10/11).

Baca Juga :   Nenek Jami Perajin Gerabah, Bertahan di Tengah Modernisasi Perabotan

Kamirin sendiri sudah tertarik pada kerajinan sejak masih duduk di bangku sekolah dasar. Saat itu, dia diajari oleh salah seorang gurunya, dari situlah bibit kecintaannya akan Handucraft mulai tumbuh seiring bertambahnya usianya.

Hanya saja, semakin lama menekuni kerajinan tangan, dia semakin sadar jika eksistensi kerajinan lambat laun mulai tergusur. Bahkan generasi muda juga mulai kurang berminat untuk membuat kerajinan tangan. 

Kondisi itu semakin diperparah dengan dunia pendidikan yang sudah tidak memasukkan Kerajinan tangan pada pembelajaran formal. Hal ini membuat dia miris, sehingga terketuk hatinya untuk mempertahankan Kerajinan tangan agar generasi muda tetap mengenal dan menyukainya.

Hal itu mendorongnya untuk memberikan pembelajaran hingga pelatihan kepada generasi muda di Tulungagung terhadap Kerajinan tangan. “Saya berkeyakinan, apabila seseorang memiliki jiwa kreatif yang dituangkan dalam kerajinan, maka tidak mungkin orang itu akan kelaparan dalam hidup,” jelasnya.

Anggapannya itu didasari karena melalui kerajinan dengan bahan dasar apapun meski didapat dengan harga murah dan mudah didapat, asalkan seseorang memiliki kreativitas untuk membuat bahan tersebut menjadi suatu karya yang bernilai.

Dia memastikan bisa menghasilkan pundi-pundi rupiah melalui hasil kerajinan itu. Baginya, salah satu keuntungan dari kerajinan ialah tidak perlu mengeluarkan banyak biaya untuk membeli bahan yang diperlukan. 

Baca Juga :   Pasar Murah Digelar di Empat Tempat

Umumnya, perajin bisa mendapatkan bahan baku utama untuk hasil karyanya nanti. Secara umum, bambu merupakan bahan baku utama untuk nantinya dibuat menjadi karya dibandingkan dengan bahan baku lainnya. Bahkan sebenarnya, dengan limbah saja, perajin yang kreatif bisa menghasilkan karya tentunya dengan nilai ekonomi yang tinggi.

“Kalau di tempat saya, diutamakan bahan yang alami, termasuk pewarnaan untuk barang-barang kami juga dari pewarna makanan, sehingga aman saat digunakan dan tidak menyebabkan alergi maupun iritasi,” ujarnya.

Selain mengenalkan Handucraft kepada generasi muda, demi melestarikan Kerajinan tangan, dia bahkan memberdayakan masyarakat Tulungagung yang memiliki minat dalam hal kerajinan. Masyarakat yang diberdayakan olehnya itu dia sebut sebagai mitra kerja dan bukan pegawainya. Manajemen kerja seperti ini sudah dia terapkan sejak menekuni Kerajinan tangan pada tahun 2010 silam hingga saat ini.

Secara teknis, awalnya dia memberikan ilmunya secara cuma-cuma kepada masyarakat yang ingin belajar Kerajinan tangan. Disaat mereka sudah bisa membuat suatu karya, masyarakat itu akan diberdayakan dalam jangka panjang secara konsisten yang berarti diberikan pekerjaan untuk membuat kerajinan yang sudah dipelajarinya.

Baca Juga :   Bripda Andrian Setiyoso, Atlet Wushu Berprestasi Andalkan 1 Kaki di Final Porporv Jatim 2019 karena Cedera Engkel 

“Masing-masing mitra saya punya keahlian masing-masing, sehingga satu orang fokus mengerjakan satu benda kerajinan. Mereka juga mengerjakannya di rumah masing-masing,” ucapnya.

Diperkirakan sampai saat ini sudah ada 20 orang yang menjadi mitra kerjanya yang berasal dari Tulungagung hingga luar daerah. Nantinya Kamirin juga akan mengontrol kualitas dan hasil kerja dari para mitranya itu. Dengan begitu, mitra kerjanya bisa memberikan hasil yang maksimal demi kepuasan pelanggan, sehingga kerajinan yang dipasarkan bisa bernilai tinggi di pasaran.

Sedangkan dalam hal produksi, dia memilih untuk menunggu pesanan dengan berbagai permintaan dari pelanggannya, sehingga tidak melakukan produksi dengan jumlah banyak. Penerapan sistem seperti itu justru membuat mitra kerjanya mendapatkan hasil yang terbilang menguntungkan, mengingat harga barang yang terbilang bagus.

Terbukti, hasil barang Kerajinan tangan yang dia edarkan bahkan pernah mencapai pasar internasional tepatnya di Malaysia dan Singapura. “Jadi kami menjual desain, nanti desain itu kami komunikasikan dengan pelanggan. Apabila cocok, akan dibuatkan sesuai permintaan,” pungkasnya.(Koran Memo)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *