January 29, 2023

Muhammad Taufiq saat berlatih bersama di Stadion Brawijaya (Bayu/Memo)

Menjadi pesepakbola profesional adalah impian dari banyak anak di Indonesia, selain pilot, dokter, atau polisi. Namun menjadi pemain sepakbola profesional tentu memiliki banyak konsekuensi, salah satunya waktu dengan keluarga yang berkurang. Hal ini juga yang dirasakan oleh pemain Persik Kediri Muhammad Taufiq.

Libur yang diberikan klub kepada para pemain di tengah kompetisi yang terhenti bagi Taufiq berarti dua hal. Intensitas latihan bersama yang menurun dan waktu bersama keluarga di rumah meningkat. 

Menjalani latihan mandiri saat di rumah diakuinya merupakan suatu hal yang tidak mudah. Meski saat libur kemarin bukan pertama kali dirinya menjalani latihan mandiri. Hal serupa sempat ia alami saat pandemi Covid-19 melanda, waktu itu dirinya masih berseragam Bali United.

Baca Juga :   Dorong Pertanian di Lahan Sempit, Pemuda Membuat Aplikasi Berbasis  Augmented Reality

Latihan mandiri ini berat karena harus menjalin komunikasi lebih dengan pelatih tanpa melalui tatap muka secara langsung. “Kalau hanya via chat seperti ini, kadang bisa harus menjelaskan dua-tiga kali, berbeda kalau bertemu langsung,” ujar pemain yang berposisi di gelandang bertahan ini.

Di tengah kelanjutan kompetisi yang belum pasti ini, Taufiq mencoba berpikir untuk mengambil sisi positifnya saja. Libur selama satu bulan yang sempat diberikan Manajemen Persik, menjadikannya bisa lebih mendekatkan diri dengan anak-anaknya. Hal yang jarang bisa dia lakukan kepada keluarga saat kompetisi berlangsung.

Perhatian Taufiq saat libur kemarin terutama untuk anak-anaknya yang saat ini masih duduk di bangku sekolah dasar (SD) dan PAUD. “Desta biasanya saat pulang sekolah minta nendang-nendang bola di rumah saja,” ujar Taufiq menceritakan kebiasaan anaknya.

Baca Juga :   Lulusan SD Mampu Produksi BBM Alternatif

Momen menemani anaknya bermain bola ini, saat kompetisi berlangsung jarang bisa ia lakukan. Karena saat sore, Taufiq harus menjalani program latihan bersama dengan tim di Stadion Brawijaya yang menjadi kandang tim berjuluk Macan Putih ini.

Sementara untuk hari Sabtu atau Minggu, dimana kebanyakan orang libur dari pekerjaannya dan meluangkan waktu untuk keluarga, Taufiq juga jarang berada di rumah. Saat kompetisi berlangsung, pertandingan sepak bola biasanya akan dilakukan pada hari Sabtu dan Minggu.

Untuk itu, Taufiq merasa libur kemarin menjadi salah satu momen yang berharga bagi dirinya, karena bisa lebih menemani tumbuh kembang anaknya. Menurutnya, masa kecil anaknya ini juga tidak bisa diulangi lagi. Sehingga pada masa-masa tumbuh kembang anak ini, merupakan waktu yang seharusnya orangtua berada di dekat anaknya.

Baca Juga :   Buat Alat Musik Gamelan Secara Otodidak

“Kami tidak tahu, nanti ketika anak sudah SMP-SMA, mungkin lebih sering bermain dengan teman-temannya. Makanya saya juga ingin terus memanfaatkan waktu walau sedikit ini, dengan anak-anak,” ujar pemain berusia 35 tahun ini.

Kini, di tengah kegiatannya latihan, Taufiq selalu menyempatkan diri untuk mengajak anaknya bermain. Ketika memiliki waktu, ia pastikan mengantar Desta, anaknya sampai ke Lapangan Bangsal untuk mengikuti latihan SSB Macan Putih.(Koran Memo)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *