January 29, 2023

Imam Murodi petugas Pusdalops BPBD Trenggalek (angga/memo)

Berkecimpung pada pekerjaan yang berbaur aktivitas sosial menjadi impian Imam Murodi, petugas Pusat Pengendalian dan Operasi (Pusdalops) Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Trenggalek. Selain menjalankan tugas, ia juga bisa sekaligus melakukan misi kemanusiaan.

Menjadi petugas Pusdalops BPBD Trenggalek memiliki peran penting dalam penanggulangan bencana. Tiap kejadian bencana tidak akan luput dari pendataan. Meskipun tugas pendataan kadang tidak terlihat, namun pendataan bencana merupakan corong awal untuk tindakan penanggulangan bencana.

“Meliputi penanganan darurat, mendesak atau untuk kepentingan penyaluran bantuan sehingga validitas data harus benar-benar valid,” kata Imam.

Sumber data kebencanaan itu diambil dari para relawan BPBD yang tersebar di seluruh Bumi Menak Sopal. Mereka bertugas untuk melapor setiap peristiwa bencana yang selanjutnya dihimpun oleh petugas Pusdalops. Tak hanya bersumber dari para relawan. Data kebencanaan itu juga bisa dihimpun dari laporan masyarakat baik yang disampaikan secara langsung ataupun tidak langsung melalui media sosial.

Baca Juga :   Lonjakan Kendaraan saat Natal dan Tahun Baru 2023 di Kota Malang Diperkirakan Mencapai 1,19 Juta

“Namun tidak serta merta informasi dari masyarakat atau warga net langsung menjadi rujukan. Saya hubungi dulu untuk validitas data,” imbuhnya.

Proses validitas data tak melulu berjalan dengan mulus, misalnya daerah sulit sinyal untuk daerah terdampak bencana di pesisir selatan, seperti beberapa wilayah di Kecamatan Watulimo, Kecamatan Panggul, dan Kecamatan Munjungan.

Untuk itu, Imam mengaku terkadang mencari sumber data lain sehingga daerah terdampak bencana itu bisa segera tertangani. “Biasanya tiga wilayah di pesisir selatan itu agak susah sinyal,” jelasnya.

Baca Juga :   Parade Dance dan Show Hollywood Dream Man Of Fire Hipnotis Wisatawan Museum Angkut

Menjalani pekerjaan sebagai petugas Pusdalops biasa bekerja satu sif dalam sehari, sif pertama mulai pukul 07.00 sampai pukul 19.00 WIB, sementara sif kedua pukul 19.00 sampai pukul 07.00 WIB Belakangan dalam satu sif, petugas Pusdalops bisa mendata lebih dari 50 peristiwa per sif.

Sebab, beberapa waktu lalu Trenggalek dilanda bencana hidrometeorologi hingga ditetapkan status tanggap darurat bencana hingga akhir tahun. “Beberapa daerah terdampak seperti wilayah Watulimo, Munjungan, kemudian area kota dan sejumlah tempat lainnya,” kata dia.

Tuntutan pekerjaan yang terkadang membuatnya terjun ke lokasi bencana, tak membuat Imam tertekan. Karena pekerjaan itu sering membuahkan kepuasan batin. Diantaranya bisa melihat kebahagiaan warga yang mendapat bantuan hingga mendengar keluh kesah warga terdampak bencana. Meskipun penuh risiko, namun dia senang bisa bermanfaat untuk orang lain.

Baca Juga :   Pasar Darurat Dungus Habiskan Anggaran BTT Hampir Rp 3 Miliar

Pekerjaan itu selaras dengan cita-cita Imam untuk bisa bekerja pada pekerjaan yang membaur dengan misi-misi sosial. Sebelumnya dia menjadi petugas pemadam kebakaran (damkar). Namun pada kisaran tahun 2017, pria kelahiran 1985 itu ditugaskan di Pusdalops BPBD.

Sudah hampir 5 tahun Imam bekerja di Pusdalops. Rentang waktu itu membuatnya sadar, melandasi pekerjaan untuk misi kemanusiaan akan membuahkan kepuasan batin.

Imam menganggap bekerja di Pusdalops BPBD tidak hanya sekedar tugas. Melainkan lebih pada misi kemanusiaan. “Ada kepuasan batin tersendiri,” pungkasnya.(*)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *