Ponorogo, SEJAHTERA.CO – Belasan desa di Kabupaten Ponorogo berpotensi mengalami kekeringan pada musim kemarau tahun ini. Hal tersebut berdasarkan hasil pemetaan BPBD, dengan puncak kekeringan diperkirakan terjadi pada Agustus.
Baca juga:RPH Rp 8,7 Miliar di Ponorogo Masih Sepi Peminat, Belum Difungsikan Tahun Ini
Kabid Kedaruratan dan Logistik BPBD Ponorogo, Agung Prasetyo, mengatakan awal musim kemarau diprediksi mulai Juli, dengan puncaknya pada Agustus.
“Berbeda dari 2025 lalu, BMKG memperkirakan kemarau tahun ini lebih panjang. Jika pola normal, biasanya Juli mulai muncul kekeringan dan puncaknya Agustus,” ujar Agung.
Dari hasil pemetaan, terdapat 11 desa yang tersebar di lima kecamatan, yakni Pulung, Slahung, Bungkal, Badegan, dan Sawoo. Wilayah-wilayah tersebut kerap mengalami kekeringan saat musim kemarau.
“Kalau mengacu pada 2024 lalu, wilayah tersebut memang mengalami kekeringan ekstrem,” tambahnya.
Beberapa desa yang menjadi langganan kekeringan di antaranya Desa Karangpatihan dan Sidoharjo di Kecamatan Pulung, yang rutin menerima droping air bersih saat kemarau. Selain itu, Desa Duri dan Wates di Kecamatan Slahung juga mengalami kondisi serupa.



















