Kemudian yang merasa kerepotan adanya serangan jutaan hewan in adalah toko atau warung. Toko Bibil yang sekaligus konter pulsa, terpaksa mematikan sejumlah lampu untuk mengurangi serbuan hewan.
Pengunjung toko, tangannya juga harus terus bergerak untuk menghindari atau mengibaskan serangan hewan kecil-kecil tersebut. Kalau tidak, hewan ini akan merambat ke muka, telinga dan lainnya.
Lalu di lantai, hewan-hewan ini juga pada berjatuhan sehingga membuat risih atau jijik jika harus menginjaknya. Kalau kebetulan yang diinjak walang sangit, bau “sengaknya” langsung menusuk hidung.
“Waduh… walang sangit keinjak…,” kata salah seorang pengunjung toko, sambil mengibaskan kakinya.
Karena untuk menghindari keluhan pengunjung atau untuk menghindari walang sangit terinjak, pemilik toko terus-menerus menyapu atau membersihkan hewan yang sudah jatuh ke lantai.
Fenomena seperti ini, kata salah seorang petani Desa Plosorejo, Ugeng Aryanto, sepertinya sudah biasa, menjelang musim hujan. “Biasa, menjelang musim hujan, muncul hewan seperti ini,” katanya.
Benarkah sinyalemen yang diucapkan seorang petani tersebut? Bisa iya, bisa tidak. Karena ini hanya berdasarkan kebiasaan. Kepastiannya, ya kita tunggu saja….
Editor: Gimo Hadiwibowo



















