Harga Beras Melambung Tinggi dan Langka, Bramo Rp 15.000 dan Ketan Rp 22.000 Perkilogram, Penjual Jajan Kelimpungan

Harga Beras Melambung Tinggi dan Langka, Bramo Rp 15.000 dan Ketan Rp 22.000 Perkilogram, Penjual Jajan Kelimpungan

Kediri, SEJAHTERA.CO –  Di saat suhu politik tanah air memanas, jelang Pilpres, harga kebutuhan pokok utamanya beras, jagung dan ketan melambung tak terkendali.

Harga beras di wilayah Kabupaten Kediri bagian utara, jenis 64 kini tembus kini Rp 14.500 bahkan lebih. Jenis bramo Rp 15.000 bahkan lebih dan jagung Rp 9.000 perkilogram.

Kemudian yang lebih gila lagi, harga beras ketan. Beras yang biasanya condong untuk jajanan kue-kue, kini harganya tembus Rp 22.000 perkilogram bahkan lebih.

Read More

Sepertinya harga tiga komoditas ini, belum pernah terjadi dalam sejarah hasil pertanian di Indonesia?. Mungkinkah Museum Rekor Indonesia (MURI) mencatatnya sebagai sejarah?

Sekadar diketahui, beras ketan pada September 2023 masih Rp 11.500, sepertinya tidak banyak peminat. Harga Rp 12.000 perkilogram sudah dianggap sangat mahal.

Karena, harga beras ketan selama itu, hanya di kisaran antara Rp 10.000 hingga Rp 11.000 perkilogramnya. Itu pun yang membeli hanya orang-orang tertentu.

Misalnya penjual minuman hangat cemoe, bubur ketan hitam dan kue-kue atau jajanan (jadul) di pasar – pasar tradisional. Termasuk jajanan ketan bumbu, ketan kelapa, dan lainnya.

Namun setelah setelah harga ketan tembus Rp 22.000 perkilogram, sejumlah pedagang ini ada yang mengurangi belanja beras ketan dan ada yang berhenti sama sekali belanja beras ketan.

Aminah (25), warga Plosorejo, Kecamatan Gampengrejo yang setiap hari berjualan minuman cemoe, kini tidak membeli ketan lagi karena harganya tidak terjangkau.

“Ya… terpaksa cemoe tanpa ketan. Kalau soal rasa, sepertinya tidak ada masalah. Tapi kalau tidak ada ketannya, sepertinya kurang lengkap,” katanya.

Kalau pelanggan bertanya, kenapa tidak ada ketannya? “Ya… saya bilang, harga beras ketan kini selangit. Jadi ya mohon maaf, untuk sementara waktu cemoe tanpa ketan,” ujarnya sambil tertawa.

Sementara itu, Markonah (60) yang sebelumnya membeli beras ketan setiap hari, sudah dua minggu lebih berhenti total, Senin (13/2/2024).

Dia tidak lagi membeli beras ketan sejak harga masih Rp 16.000 perkilogram. Ibaratnya gak nyucuk (imbang) dengan harga jajanannya untuk konsumsi warga desa.

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *