Namun burung perkutut justru memiliki nilai filosofis tersendiri yang menjadikan daya tarik utama dari burung perkutut tersebut.
“Kalau nilai filosofisnya, bulu burung perkutut berwarna coklat di area sayap dan punggung dengan corak hitam putih di area leher. Karakteristiknya seperti orang Jawa yang mengenakan kain lurik kombinasi warna hitam, putih dan coklat. Taga boleh lurik, tapi hatinya tetap harus bersih,” ungkapnya.
Selain secara filosofis, secara nominal burung perkutut juga memiliki nilai yang fantastis. Untuk satu ekornya dibanderol dengan harga jutaan rupiah dan bisa naik tergantung kualitas burung perkututnya.
Burung perkutut juga memiliki corak yang unik pada bagian lehernya, ditambah burung itu rajin berkicau atau istilah lainnya Gacor, serta sering memenangkan lomba, harganya justru bisa naik berkali-kali lipat.
Bahkan burung perkutut lokal kelas lomba miliknya pernah ditawar dengan nilai fantastis, yakni seharga Rp 30 juta lantaran memiliki tiga kriteria khusus tersebut.
“Sebenarnya tergantung kualitas burung perkutut itu sendiri, kalau memang bagus pasti dicari orang. Kalau koleksi saya ini memang tidak dijual, tapi selalu diincar orang-orang hingga ada yang ditawar seharga Rp 30 juta,” pungkasnya.
Reporter : Mochammad Sholeh Sirri
Editor : Dhita Septiadarma



















