Ia menambahkan, pengolahan limbah rumah tangga dan limbah RPH menjadi kompos, pupuk cair, dan pestisida nabati tidak hanya mengurangi pencemaran lingkungan, tetapi juga meningkatkan ketahanan pangan dan kesejahteraan keluarga.
“Dinas Peternakan berkomitmen mendorong sinergi seperti ini, termasuk mengarahkan limbah RPH yang semula jadi sumber pencemaran menjadi sumber daya produktif,” tandasnya.
Sebagai bentuk dukungan lintas sektor, Perum Jasa Tirta I juga menyerahkan bantuan alat pencacah kompos secara simbolis. Dalam sesi materi, peserta mendapatkan paparan mengenai regulasi dan peran pemerintah daerah, teknik dasar pengolahan sampah rumah tangga dari Sekolah Sungai Brantas, serta strategi pemberdayaan masyarakat dari Brantas Berdaya.
Pelatihan ini juga mencakup sesi praktik langsung membuat kompos, pupuk cair, dan pestisida nabati, dilanjutkan dengan simulasi mandiri dan pendampingan pembentukan Bank Kompos di tingkat komunitas.
Sebagai penutup, dilakukan pembagian bibit tanaman, kompos, dan cairan mikroba lokal kepada peserta sebagai bekal penerapan praktik di lingkungan masing-masing.
Saleh berharap pelatihan ini menjadi awal perubahan budaya masyarakat dalam mengelola sampah dan memperkuat ketahanan pangan berbasis keluarga.



















