Harga jajanan ketan klopo (ketan dengan kelapa parus) atau ketan dengan bumbu tabur, biasa hanya Rp 2.000 hingga Rp 3.000 perbukus. Kalau harga ketan Rp 16.000 gak ada untung.
“Apalagi bungkus jajanan dari daun pisang kini harganya juga mahal. Jadi ya lebih baik berhenti dulu jualan. Tunggu kalau harga ktan normal,” katanya.
Malikha (37), seorang pemilik toko kelontong juga heran dengan terus melonjaknya harga beras maupun harga beras ketan belakangan.
Saat ini di tokonya stok beras jenis 64 maupun bramo sudah menipis. Masing-masing tinggal satu karung (25 kilogram). Dia menjual beras 64 Rp 14.500 perkilogram dan bramo Rp 15.000 perkilogram.
Sementara beras ketan yang kini menjadi momok para penjual jajanan atau kue tradisional, dia menjual dengan harga Rp 22.000 perkilogram.
Diakui Malikha, mereka yang biasanya menjual jajanan sudah pada berhenti belanja beras ketan. Dianggap terlalu mahal.
“Pembelinya, kebanyakan warga biasa yang punya hajatan. Biasanya untuk kue wajik, jadah dan sejenisnya,” jelas dia.
Sementara pedagang beras, Soim (64), warga Kayen Kidul, Kabupaten Kediri, ibaratnya tinggal kipas-kipas menikmati keuntungan dari hasil beras biasa dan beras ketan.
Saat ini dia tidak beraktifitas, selain karena harga beras yang begitu mahal, di gudang yang menjadi langganannya juga sudah habis stoknya.
“Harga beras 64 saat ini di gudang sudah Rp 14.500. Saya harus menjual berapa ke pelanggan toko-toko. Saya juga tidak enak,” katanya.
Soal harga beras ketan, dia mengaku “menang” atau untung besar. Padahal dia tidak menjual di harga puncak, Rp 22.000 perkilogram, seperti saat ini.
“Saya saat itu punya stok 20 ton beras ketan. Saya jual ke penampung di Kota Kediri masih di harga Rp 16.000 perkilogram. Kalau saya jual saat ini, berapa keuntungannya,” kata dia bangga.
Editor: Gimo Hadiwibowo



















