Ia memaparkan jika proses produksi, mulai dari naskah, penyutradaraan, hingga pembuatan properti, semuanya melibatkan para pelajar secara langsung, dengan tiap kostum dan properti, seperti pedang dan busur, dikerjakan oleh kelompok-kelompok pelajar yang berbeda.
Masih menurut Ning Ika, pesan mendalam dari pementasan ini adalah, “Disiplin sangat penting dalam segala hal. Walaupun memiliki kekuatan besar, tanpa disiplin kita bisa kalah. Kami juga ingin mengajarkan para siswa untuk membalas kejelekan dengan kebaikan, bukan dengan keburukan,” katannya.
Sambutan positif datang dari para penonton, termasuk Santoso (38), yang merasa kagum dengan inovasi pementasan yang selalu berkembang setiap tahun.
“Tahun lalu temanya tentang lingkungan, dan sekarang mengangkat Gambus Misri dan Perang Yarmuk. Semoga kegiatan seperti ini terus dilestarikan agar seni teater tetap eksis dengan sentuhan modern,” ungkapnya.
Baca Juga :KPU Ponorogo Catat Ada Ratusan Pemilih Urus DPTb. Komisioner: Ada Pilih Masuk dan Pilih Keluar
Dengan durasi sekitar satu jam, pementasan ini menyuguhkan pengalaman teater yang memukau dan penuh energi, memperkenalkan sejarah penting sekaligus memperkaya budaya lokal kepada generasi muda.
Teater Mutiara Hikam telah membuktikan bahwa seni teater di Indonesia masih hidup dan berkembang, serta mampu menyampaikan pesan moral dan budaya kepada masyarakat luas.



















