Bahkan tidak cukup sampai disitu, arus sungai yang deras itu diketahui juga membawa sejumlah material seperti tumpukan ranting pohon, kayu hingga sampah.
Atas kondisi ini, pihaknya menilai operasional perahu penyeberangan dianggap membahayakan jika dipaksa untuk tetap beroperasi.
Baca Juga :Minimarket 24 Jam di Kelurahan Tempurejo Kota Kediri Kerampokan, Ini Kronologinya
“Kondisinya memang sangat menbahayakan, akibat volume airnya naik, bahkan kondisi perahu penyeberangan lebih tinggi dari pada dermaganya. Pada beberapa penyeberangan juga airnya sampai meluber, jadi mau tidak mau harus ditutup,” ungkapnya.
Meski dilarang untuk beroperasi sementara waktu, jelas Sujarmani, operasional perahu penyeberangan di sepanjang aliran Sungai Brantas Tulungagung bisa dioperasikan lagi ketika air sudah berangsur surut. Pihaknya juga terus memantau perkembangan kondisi volume air Sungai Brantas melalui koordinasi dengan PJT.
Baca Juga :Dinas PUPR Kabupaten Trenggalek: Pelan Tapi Pasti, Jalan Rusak Perlahan Mulus
Menurut Sujarmani, secara umum memang operasional perahu penyeberangan tengah dihentikan sementara waktu terutama bagi perahu penyeberangan yang berdimensi kecil.
Namun bagi perahu penyeberangan dengan dimensi yang besar terpantau tetap beroperasi, total hanya ada empat perahu penyeberangan yang beroperasi.
Baca Juga :Eks Bupati Nyoblos di Lapas Kelas IIB Tulungagung
“Hanya ada empat perahu penyeberangan yang beroperasi, tetapi secara umum yang lain tutup sementara karena membahayakan. Masyarakat juga kami himbau agar tidak menggunakan jasa perahu penyeberangan sementara waktu sampai volume Sungai Brantas turun,” pungkasnya.



















