Dalam menjalankan produksi, Chintya dibantu oleh dua karyawan. Prosesnya dimulai dari pemilihan ubi berkualitas, pengukusan, penghalusan, pembentukan adonan, pengisian, pelapisan wijen, hingga penggorengan. Semua dikerjakan dengan teliti agar menghasilkan tekstur lembut dan rasa yang konsisten.
Baca Juga :Ribuan Warga Padati Jalan Sehat, Eks Napiter Bom Bali Ali Fauzi Tebar Pesan Kebangsaan
Menariknya, strategi pemasarannya juga tak kalah kreatif. Lewat siaran langsung (live) di TikTok, ia berhasil menjangkau pasar luar kota. Selain itu, penjualan juga dilakukan melalui WhatsApp, Instagram, toko oleh-oleh, hingga kantor-kantor pemerintahan.
“Dulu hanya coba-coba jualan online. Nggak disangka responnya bagus banget. Sekarang malah punya pelanggan tetap dari luar kota juga,” lanjut Chintya.
Harganya pun sangat terjangkau. Per butir hanya Rp 2.500, dengan pilihan paket kecil Rp 15.000 dan paket besar Rp 25.000. Salah satu pelanggan, Naning Susanto, mengaku selalu ketagihan.
“Rasanya unik dan nggak bikin enek. Apalagi katanya sehat dan nggak bikin gemuk,” tuturnya.
Baca Juga :Bupati dan Wakil Bupati Jombang Berkendara Kampanyekan Keselamatan
Kini, onde-onde ubi ungu racikan Chintya tak hanya merajai pasar Jombang, tapi juga sudah merambah ke luar daerah seperti Kabupaten Ngawi.
Lebih dari sekadar tren, usaha ini membuktikan bahwa kreativitas ibu rumah tangga mampu menjadi motor penggerak ekonomi lokal.



















