Sugeng, Pengoleksi Lesung, Gambaran Gotong Royong Warga Pedesaan Yang Sudah Sirna

Sugeng, Pengoleksi Lesung, Gambaran Gotong Royong Warga Pedesaan Yang Sudah Sirna

Tulungagung, SEJAHTERA.CO – ‘Lesung’ mungkin terdengar asing bagi telinga generasi Z. Lantaran benda tersebut sudah lama tidak dimanfaatkan sebagai penumbuk padi.

Namun berbeda bagi Sugeng, warga Desa Ketanon Kecamatan Kedungwaru Kabupaten Tulungagung, Lesung memiliki daya tarik tersendiri hingga memutuskan untuk mengkoleksinya.

Berkunjung ke rumah Sugeng, pada bagian depan rumahnya nampak sangat berbeda dan mencolok dibandingkan rumah tetangga-tetangganya lantaran terlihat banyak benda-benda tua mulai dari pintu bahkan Lesung.

Read More

Lesung sendiri dulunya digunakan masyarakat untuk mengolah padi yang baru dipanen untuk diubah menjadi beras.

Setidaknya terdapat empat Lesung yang terlihat cukup berumur dengan berbagai ukuran yang ada di rumah Sugeng yang mana secara mengejutkan, kondisinya masih cukup baik dan masih bisa digunakan untuk mengolah padi.

Padahal empat Lesung yang disimpan di rumahnya itu diperkirakan sudah berusia puluhan tahun lamanya.

“Perkiraan saya usianya sekitar 40 tahun lebih bahkan bisa jadi 100 tahun, tetapi memang kondisinya masih bisa difungsikan untuk mengubah padi menjadi beras,” kata Sugeng, Kamis (5/10/2023).

Penggunaan Lesung di kalangan masyarakat terutama di Tulungagung, diperkirakan terakhir digunakan pada tahun 1980 silam sebelum akhirnya, peran Lesung digantikan mesin penggiling padi.

Mengingat sejak saat itu, dirinya sudah tidak lagi menjumpai adanya petani padi yang menggunakan Lesung untuk mengolah padi menjadi beras.

Sugeng bercerita, keempat Lesung miliknya itu didapat dengan cara yang tidak gampang lantaran fungsi utamanya sudah hilang, maka banyak masyarakat yang memanfaatkannya sebagai kayu bakar.

Meski begitu, masyarakat yang masih memiliki Lesung secara utuh juga tidak mudah secara sukarela mau menyerahkan Lesung tersebut kepada orang lain.

“Itu karena sebagian masyarakat beranggapan jika Lesung itu barang antik, sehingga mereka memilih untuk menyimpannya sendiri. Kalaupun mau diserahkan, harganya mahal, karena Lesung zaman dulu dibuat dari kayu jati atau nangka yang berusia tua, sehingga harganya bisa mencapai Rp 3,5 juta,” ungkapnya.

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *