“Maka gerakan mengompos sampah di rumah itu mudah adalah tagline edukasi kami dengan cara metode apapun bisa,” paparnuya.
Shanti mengatakan, sampah organik yang ada di rumah bekas dapur tidak usah dikirim ke TPA dan sebenarnya juga jadi masalah di lingkungan karena mudah terurai dan bisa dimanfaatkan untuk pembuatan pupuk cair ekoenzim.
“Maka cara sederhana kalau tadi ekoenzim adalah bahan dari timbulan sampah dari sayur kulit buah bisa di buat untuk pupuk cair ekoenzim dan lebih mudah pembuatan dan ramah lingkungan,” terangnya.
Shanti menjelaskan untuk membuat pupuk cair ekoenzim ,misalnya 100 gram molase, 300 gram sampah kulit dan 1 liter air perbandingan takaran 1:3:10 jadi bisa membuat banyak biasanya warga membuat dengan galon – galon bekas untuk jadi wadah menampung pupuk cair ekoenzim dan banyak yang sudah di produksi.
“Uniknya warga Kelurahan Kaliwungu ini pupuk cair ekoenzim di buat bahan pengurai di dalam drum komposter dapat bantuan dari DLH yang ditaruh di rumah agar cepat menjadi kompos dan hancur dengan disiram menggunakan pupuk ini. Jadi apa yang mereka konsumsi kembali ke tanah itulah namanya sekuler ekonomi,” tutupnya.
Reporter : Taufiqur Rachman
Editor: Dhita Septiadarma



















