“Untuk jalan yang ambles 20 hingga 30 centimeter, merupakan jalan desa yang sudah di aspal. Sebagai upaya awal penanganan bencana alam tanah gerak, pihak kami telah melakukan kaji cepat dan koordinasi dengan pihak-pihak terkait kemudian bersama dengan warga, dilakukan penutupan sementara jalan aspal yang retak,” imbuhnya.
Ia juga membeberkan hasil dari kaji cepat, BPBD Kota Batu merekomendasikan untuk dilakukan relokasi area bangunan yang terdampak.
Selain itu juga melakukan alih fungsi kawasan menjadi daerah konservasi tangkapan air, dan kemudian melakukan rekayasa teknis penguatan struktur tanah agar pemanfaatan kawasan dengan melibatkan peneliti civitas akademi.
Perlu diketahui, berdasarkan hasil kajian yang telah dilakukan sebelumnya kawasan tersebut sudah tidak aman lagi untuk ditempati warga dan terjadi pada 2021 lalu. Bahkan EWS berbunyi hingga 17 kali dalam sehari.
Dari hal itu, akhirnya 16 KK di dusun tersebut diungsikan ke tenda darurat dan kediaman sanak saudara. Bahkan saat itu, Pemkot Batu membuatkan hunian sementara (huntara) untuk 16 KK terdampak. Selain itu juga akan membuatkan hunian tetap (huntap) di lokasi yang lebih aman.
Namun setelah tiga tahun berlalu, rencana pembuatan hunian tetap (huntap) untuk warga terdampak belum juga terealisasi karena berbagai persoalan. Seperti warga tidak mau dipindahkan ke lokasi yang jauh dari kediaman mereka saat ini, dan juga sulitnya Pemkot Batu mencari lahan yang aman di kawasan yang sama.
Reporter : Arief Juli Prabowo
Editor : Gimo Hadiwibowo



















