Ririn menyebut bakal melakukan langkah antisipatif bersama stakeholder lainnya untuk mencegah kasus itu kembali merebak. Sebab, menjelang pelaksanaan kurban terjadi peningkatan lalu lintas ternak di wilayah Trenggalek.
“Untuk itu kami terus lakukan langkah antisipasi sehingga penyakit itu tidak sampai merebak lagi, mengingat terjadi peningkatan jual beli ternak,” jelasnya.
Meskipun masih aman untuk dikonsumsi, namun penyakit PMK itu dapat melumpuhkan sendi-sendi perekonomian masyarakat akibat nilai jual hewan kurban yang menurun drastis.
Padahal kurban menjadi momentum masyarakat untuk meningkatkan sisi pendapatan dari hasil penjualan hewan kurban.
Terlebih tak sedikit warga Bumi Menak Sopal bergantung pada sektor peternakan. Indikator itu berkaca dari jumlah populasi sapi, kambing, serta domba yang tersebar di 14 kecamatan. Data April 2024, jumlah populasi sapi potong di Trenggalek mencapai 40.933 ekor. Kambing sebanyak 378.348 ekor dan domba sebanyak 73.409 ekor.
“Itu belum termasuk sapi perah, kerbau dan lainnya. Jadi sangat berpengaruh sekali jika kasus PMK kembali merebak,” pungkasnya.
Reporter: Angga Prasetya
Editor: Dhita Septiadarma



















