“Berkaca dari musim tanam padi kemarin satu hektare bisa panen 7,182 ton. Untuk kimia maksimal 7,5 ton, tapi terjadi perbedaan harga yang sangat jauh, selain dampak jangka panjang yang ditimbulkan,” kata dia.
Bahkan, kelompoknya pernah melakukan uji coba penggabungan penggunaan pupuk cair organik buatan kelompoknya dengan pupuk kimia. Hasilnya, kata Azwar, jauh melebihi ekspektasi. Lahan satu hektare bisa menghasilkan sekitar 9,72 ton dengan perbandingan penggunaan pupuk kimia 30 persen.
“Jadi petani di sini semuanya sudah menggunakan POC ini. Hanya saja mayoritas dicampur dengan pupuk kimia, yang full menggunakan POC cair sekitar 25 persen dari empat kelompok tani plus gapoktan di sini,” tambahnya.
Setelah merasakan sendiri manfaat dari POC cair itu, ia tak lagi dipusingkan soal alokasi pupuk subsidi yang menurutnya membutuhkan proses cukup rumit.
Sebab saat ini ia bersama kelompoknya lebih memilih mengupayakan mematenkan produknya sehingga akses kebermanfaatannya bisa dirasakan masyarakat luas dari pada menggantungkan alokasi pupuk subsidi yang tak pasti.
“Silakan dimanfaatkan gratis. Selain padi, juga bisa untuk yang lain seperti semangka, melon dan lainnya. Pernah dicoba pada semangka, itu daunnya yang biasanya dimakan ulat masih utuh dan sudah berbuah, artinya ada perubahan signifikan. Kalau untuk tebu kami belum melakukan riset,” ujarnya.
Di luar itu, lulusan sarjana ekonomi Unair asal Surabaya itu bercita-cita dengan lahirnya inovasi itu bisa membuat kemitraan yang lebih berpihak pada petani, baik dari aspek operasional produksi hingga keuntungan yang didapat. Mulai penyediaan pupuk sendiri, benih hingga pangsa pasar yang menguntungkan.
“Impian jangka panjang kami seperti itu. Namun untuk saat ini kami masih terbatas untuk skala produksi. Jika nanti sudah mumpuni, kami ingin membuat kemitraan. Benih, pupuk, bahkan juga soal penjualannya kami fasilitasi,” tambah Azwar.
Menurutnya peluang membuka kemitraan itu masih terbuka luas sehingga ia getol menyusun rencana jangka panjang Gapoktan itu meskipun diakui tak sejalan dengan jalur pendidikan yang dia tempuh. Terpenting, ia sudah berusaha untuk mewujudkan impian dengan mengedepankan penggunaan teknologi.
“Saya di dalam kelompok ini bisa disebut petani milenial. Ya, membantu meriset menggunakan perkembangan teknologi yang ada saat ini. Yang penting bisa bermanfaat, apalagi saat sekarang domisili di sini (Trenggalek),” pungkasnya
Reporter: Angga Prasetya
Editor: Dhita Septiadarma



















