Awalnya, pada tahun 2020 silam, Sarkamto dan istrinya hanya melayani pemesanan abon yang datang dari teman-temannya saja yang ingin mengolah daging kurban yang didapat menjadi abon. Setelah melayani teman-temannya itu, tanpa disangka hasil abon buatan Sarkamto dan istrinya justru semakin dikenal masyarakat.
“Mungkin mereka saling getok tular, setelah pesan disini dan merasa cocok, akhirnya dikenalkan ke masyarakat lainnya, sehingga banyak masyarakat yang pesan,” tuturnya.
Meski baru empat tahun terakhir melayani pembuatan abon daging kurban, namun sebenarnya Sarkamto dan istrinya sudah sejak lama membuat abon. Diketahui, kemampuan membuat abon sapi tersebut sebenarnya justru didapat oleh sang istri yakni Mujiati yang diajari oleh ibunya sendiri.
Pada saat itu, Sarkamto dan Mujiati yang masih berjualan daging sapi di Pasar Ngemplak sering mendapati daging yang dijualnya tidak laku terjual.
Mereka justru khawatir jika daging sapi tersebut hanya disimpan, justru kualitasnya menurun, sehingga mereka terfikirkan untuk mengolah daging tersebut menjadi abon.
“Sebenarnya istri saya yang tahu caranya membuat abon. Dia bisa membuat abon setelah diajari oleh ibunya dan mulai membuat abon sejak tahun 1991 menggunakan daging sapi dagangan kami yang tidak laku saat dijual,” ungkapnya.
Meski banjir orderan saat hari raya Iduladha, rupanya pasutri tersebut tidak terfikirkan untuk mencari pegawai untuk membantu mereka membuat abon tersebut. Mereka justru mengajak anak dan menantunya untuk membantu membuat abon mulai dari mengupas bawang merah bawang putih, hingga menggiling daging.
Setelah daging-daging tersebut selesai digiling, Mujiati kemudian mulai meracik bumbu-bumbu seperti bawang merah bawang putih, ketumbar, kemiri dan gula untuk dicampur bersama daging yang sudah digiling itu. Barulah kemudian saat proses penggorengan dikerjakan Sarkamto seorang diri, dimana tahap penggorengan perlu waktu selama 40 menit.
“Paling sulit proses penggilingan dan penggorengannya. Makanya proses penggilingan dikerjakan anak dan menantu saya. Kalau menggoreng kesulitannya karena dikerjakan selama 40 menit dan harus diaduk tanpa henti,” pungkasnya.
Reporter : Mochammad Sholeh Sirri
Editor : Dhita Septiadarma



















