Sebelumnya, polisi juga mengungkap hasil otopsi yang sudah dilaksanakan telah keluar dan hasilnya ditemukan luka pada bagian kepala baik korban laki-laki (Muh Balya) maupun perempuan (Binti Munadoro) akibat luka penganiayaan atau pembacokan.
Baca Juga :Puluhan Desa di Trenggalek Krisis Air Bersih, Lebih dari 9 Ribu Warga Terdampak
Dia menyebut, bahwa luka yang dialami kedua pelajar hingga meninggal dunia itu bervariatif.
“Untuk korban laki-laki ada 8 luka bacok dan korban perempuan ada 6 luka bacok. Jadi aksi penganiayaan itu berulang-ulang kali,” jelasnya saat ditemui di ruangannya, Rabu (4/9/2024) sore.
Dia mengungkapkan, telah mengamankan sejumlah barang bukti seperti senjata tajam (sajam) jenis parang, baju, sprei, bantal ada bekas bercak darah.
Pada saat kejadian, kedua korban sama-sama sedang tidur di atas kasur hingga akhirnya peristiwa itu terjadi sekitar pukul 03.00 WIB.
“Jenazah sudah dipulangkan usai otopsi dan dimakamkan hari ini di tempat pemakaman umum kelurahan setempat,” ucapnya.
Suami korban, lanjut dia, setiap hari tidur di masjid yang lokasinya berjarak 30 meter dari rumahnya.
Karena yang bersangkutan berdasarkan informasi awal mendengar ada teriakan sehingga bergegas untuk pulang ke rumahnya dan mendapati kondisi anaknya seperti itu (luka-luka dan meninggal dunia).
“Jadi yang mendengar pertama itu bukan suaminya, tapi warga setempat,” ungkap Kasat Reskrim Polres Kediri Kota.



















