Soal asal usul ritual Manten Kucing ini, Mujialam menjelaskan, zaman dahulu saat terjadi kemarau panjang seorang sesepuh desa tanpa sengaja mandi bersamaan dengan kucing miliknya di kawasan Coban Kromo.
Baca Juga :Rendy Varera dan Ayu Triya Andriana Juara Umum IDH 2024
Tanpa diduga, setelah itu justru turun hujan dengan lebatnya yang kemudian mengakhiri terjadinya kemarau panjang di Desa Pelem, Kecamatan Campurdarat. Warga yang mengetahui hal tersebut kemudian menjadikan ritual Manten Kucing atau Ngedus Kucing secara turun-temurun saat terjadinya kemarau panjang.
“Sejak saat itu warga meyakini jika rituan Manten Kucing ini bisa mendatangkan hujan, sehingga kebutuhan air warga kembali tercukupi,” jelasnya.
Baca Juga :Peduli Korban Angin Puting Beliung, Mas Dhito Kunjungi Rumah Korban Bencana
Menurut Mujialam, ritual ini dilakukan dengan arak-arakan satu pasangan kucing jantan dan betina yang nantinya akan dimandikan sesuai ritual. Saat arak-arakan itu, kucing tersebut dibawa oleh sepasang pengantin dengan dilengkapi kembar mayang yang menemani prosesi arak-arakan.
Setelah diarak, kucing tersebut dibawa turun ke aliran Coban Kromo untuk diserahkan kepada sesepuh desa dalam hal ini sesepuh tersebut merupakan Kepala Desa. Kemudian, sesepuh desa memandikan sepasang kucing tersebut yang kemudian disusul pembacaan doa kepada Tuhan Yang Maha Esa.
Baca Juga :KPU Ponorogo Catat Ada Ratusan Pemilih Urus DPTb. Komisioner: Ada Pilih Masuk dan Pilih Keluar
“Setelah dimandikan dan pembacaan doa itu, ritual sudah selesai dan dilanjutkan dengan acara selamatan yang dihadiri oleh masyarakat di lokasi Coban Kromo,” pungkasnya.



















