Pemuda Asal Kelurahan Bandar Kidul Membantu Merintis Usaha Mainan Pesawat Gabus, Mulai SMA, Keterusan hingga Duduk di Bangku Kuliah

Pemuda Asal Kelurahan Bandar Kidul Membantu Merintis Usaha Mainan Pesawat Gabus, Mulai SMA, Keterusan hingga Duduk di Bangku Kuliah
Mohammad Ridho Subekti saat memeriksa bodi mainan pesawat buatannya (rizky/sejahtera.co)

Baca Juga :Antisipasi Banjir Susulan di Sepawon dan Wonorejo Trisulo, Dibuatkan Sodetan di Wilayah Perkebunan Sepawon Bagian Atas

Pemuda yang kini menempuh pendidikan di salah satu universitas Kota Kediri ini mengaku, sempat merasa kesulitan ketika sedang proses membuat mainan pesawat. Maklum saja, dirinya masih pertama kali membuat dan belum memiliki pengalaman.

Akan tetapi, kesulitan itu bukan menjadi permasalahan serius bagi dirinya karena rasa optimis dan percaya diri masih ada harapan.

Read More

Seiring berjalannya waktu, pencapaian itu akhirnya bisa terwujud hingga apa yang menjadi kendala selama proses pembuatan dapat diatasi dengan baik.

“Kalau nggak belajar, pasti tidak bisa. Ini semua berkat usaha saya, juga ayah yang tidak capek dalam memberikan ilmu kepada saya sejak awal sampai berhasil,” kenangnya.

Baca Juga :Dinkes Ponorogo Tekan Angka Kematian Ibu, Fokus pada Skrining dan Pendampingan

Tidak hanya sekedar membuat, dia juga menjual mainan pesawatnya. Walaupun merintis pada saat duduk kelas 1 Sekolah Menengah Atas (SMA), Ridho tidak minder ketika berjualan membantu ayahnya pada saat weekend (Sabtu-Minggu) di Simpang Lima Gumul (SLG) menggunakan obrok.

Di samping itu, dirinya mampu membagi waktu antara berjualan maupun proses membuat pesawat dengan sekolah.

Uang hasil jualan mainan tersebut digunakan untuk kebutuhan sehari-hari dan biaya sekolah. Ia bersyukur karena hasil karya buatannya bisa laku khususnya disukai anak-anak.

Baca Juga :Permintaan Penyamaan Harga Tanah Tak Digubris, Warga Terdampak Proyek Jalan Tol Kediri- Tulungagung Kecewa

“Dulu harganya Rp 6 ribu per biji (mainan). Kalau sekarang menjadi Rp 8 ribu,” tambah anak pertama dari dua bersaudara ini.

Pria yang dulu pernah ikut cabang olahraga Wushu ini mengaku, penjualan mainan tersebut tidak hanya di satu tempat, melainkan keliling di wilayah Kota dan Kabupaten Kediri. Terutama di sekolah usia anak-anak kecil yakni PAUD atau Taman Kanak (TK).

Bahkan, juga di acara-acara lain seperti pengajian hingga karnaval di desa-desa.

Sekitar dua tahun kemudian, dia merasa bersyukur karena mendapatkan gabus bekas yang merupakan bahan baku untuk membuat mainan pesawat. Hal itu juga membawa dampak positif lantaran bisa menghemat biaya.

Baca Juga :Pemesatan Tiket KA untuk Lebaran Islam 2025 Dibuka, KAI Minta Masyarakat Rencanakan Perjalanan

“Gabusnya itu banyak dibuang tempat sampah, terus diambil bapak. Ambilnya pas pulang jualan, tahunya bapak saat keliling ada gabus bekas dan dibawa pulang ke rumah,” imbuhnya.

Hingga saat ini, penjualan mainan pesawatnya masih eksis walaupun kondisinya sudah di era digital atau modern. Oleh karenanya, ada sedikit perbedaan penjualan di tahun sebelumnya hingga saat ini.

Namun demikian, dia yang merupakan generasi milenial memanfaatkan teknologi era digital saat ini untuk memasarkan mainannya tersebut. Tidak hanya dijual di Kediri, pesawat itu juga dijual di wilayah Blitar karena sudah ada pelanggan ayahnya yang tertarik dengan mainan buatannya sejak tahun 2022.

Dia menambahkan, satu minggu sekali mengirimkan mainan pesawat ke kios pedagang Makam Bung Karno Blitar sebanyak 100 hingga 200 biji.

Baca Juga :Patroli Tambang Pasir, Polisi Minta Alat Berat Dipindah, Ini Kata Kanit Tipidekter Polres Blitar Kota

“Itu suatu kebanggan bagi kami karena bisa dikenal banyak orang khususnya pelanggan. Saya punya harapan ke depannya, usaha yang dirintis sejak awal bisa terus berlanjut,” pungkas Ridho Subekti.

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *