Tulungagung, SEJAHTERA.CO – Penurunan elevasi permukaan air di Bendungan Wonorejo, Tulungagung, mulai berdampak pada operasional Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA) Wonorejo. Meski demikian, kondisi tersebut dipastikan belum mengganggu kebutuhan air baku maupun irigasi masyarakat.
Kepala Sub Divisi Pengelolaan Sumber Daya Air (SDA) Sungai Brantas 2 Perum Jasa Tirta I, Nina Meitasari, mengatakan penurunan elevasi air bendungan mulai terjadi sejak memasuki musim kemarau. Hingga awal Juli 2026, ketinggian air tercatat turun sekitar 10 meter.
Sebelum musim kemarau, elevasi permukaan air Bendungan Wonorejo berada di angka 179 meter di atas permukaan laut (mdpl). Saat ini, elevasinya tercatat turun menjadi 169,74 mdpl.
“Secara teknis untuk kebutuhan air baku dan irigasi masyarakat Tulungagung dan sekitarnya tidak ada kendala sama sekali,” kata Nina Meitasari, Rabu (1/7/2026).
Namun, penurunan elevasi tersebut berpengaruh terhadap pasokan air yang menggerakkan turbin PLTA Wonorejo. Akibatnya, jam operasional pembangkit harus dikurangi secara signifikan.
Sebelumnya, PLTA Wonorejo mampu beroperasi antara delapan hingga 24 jam per hari saat volume air bendungan berada pada level optimal. Kini, pembangkit hanya dapat beroperasi maksimal lima jam setiap hari.



















