Tulungagung, SEJAHTERA.CO – Setelah ditutup untuk memotong mata rantai Penyakit Mulut dan Kuku (PMK), kini Pasar Hewan Terpadu (PHT) Tulungagung mulai dibuka, Jumat (14/2/2025).
Sayangya, operasional PHT hari ini justru terkesan sepi lantaran hanya diisi pedagang dari lokal Tulungagung saja.
Salah seorang pedagang sapi asal Tanggunggunung, Tulungagung, Agus mengatakan, kondisi PHT saat ini sangat sepi, baik pedagang maupun pembeli.
Tidak hanya sepi, imbas PMK dan penutupan PHT mengakibatkan harga ternak turun dibanding sebelumnya.
Diketahui, untuk sapi yang biasa terjual dengan harga Rp 15 juta, saat ini justru hanya dihargai senilai Rp 13 juta saja. Selisih harga sapi itu mencapai sekitar Rp 2 jutaan.
Hal ini disinyalir dikarenakan dampak dari PMK yang kembali merebak di Kabupaten Tulungagung sejak bulan Desember 2024.
“Pasarnya sepi mas, harganya juga hancur. Biasanya sapi saya yang laku seharga Rp 15 juta, saat ini cuma lagi Rp 13 juta saja. Dampak PMK sepertinya,” kata Agus, Jumat (14/2/2025).
Agus biasanya membawa sapi sebanyak enam ekor, kali ini hanya berani membawa tiga ekor sapi saja. Dari tiga sapi dijajakan, sebanyak dua ekor sapi sudah laku terjual meski dengan harga yang cukup murah dari biasanya.
Menurut Agus, kondisi ini membuat laba yang didapatkan sangat tipis. Meski sapi miliknya sudah terjual dua ekor, namun dirinya sendiri tidak memiliki pilihan lain.



















