“Paling tidak dua hari kedepan sudah selesai, kita bangun jembatan darurat, biar masyarakat tidak harus menyeberangi sungai,” pungkasnya.
Sementara itu, salah satu warga yakni Parmin mengaku nekat dengan menyeberangi sungai bersama anaknya, akibat putusnya jembatan tersebut. Hal itu dilakukan karena jembatan yang putus merupakan satu-satunya akses menuju sekolah.
“Karena jembatan putus total, saya ikut berjalan kaki menyeberang sungai mengantar anak. Kan anak saya mau sekolah di SMPN 2 Bungkal,” katanya.
Hal serupa juga dilakukan Slamet, dirinya harus menggendong anaknya untuk bisa menyeberangi sungai. Menurutnya jembatan penghubung itu sudah mengalami putus sebanyak dua kali karena diterjang banjir.
“Karena anak saya ada kegiatan pondok Ramadan di sekolah, jadi mau nggak mau harus masuk. Terpaksa tadi digendong biar aman,” tandasnya.



















