Jombang, SEJAHTERA.CO – Ramadan selalu menghadirkan dua wajah yang kerap terpisah yakni langit dan bumi, hal ini disampaikan Ustaz Achmad Saifullah Syahid seusai 22 hari penuh puasa di Musala Al-Fath Jagalan selalu rutin diadakan dan dua wajah itu berpelukan erat dalam Ngaji Bareng Ramadan 1447 H.
Sebagai penggagas kegiatan tersebut, Ustaz Saiful menerangkan bahwa dua wajah ini menjadi satu kesatuan, wajah langit adalah shalat, tilawah, zikir, dan majelis ilmu.
Sedangkan wajah bumi adalah dapur yang mengepul, kebutuhan yang harus terpenuhi, dan perut yang diisi setelah seharian berpuasa.
“Jadi merefleksikan bahwa setiap hari di musala sederhana itu, tiga ritual mengalir dalam satu napas, yakni takjil bersama, shalat Maghrib berjamaah, lalu buka puasa bersama. Urutan ini bukan sekadar rangkaian kegiatan. Ia adalah ritme rohani yang mengalir secara natural,” ungkapnya, Sabtu (14/3/2026).
Seperti halnya, takjil menjadi momen penantian yang dirayakan bersama. Duduk berdampingan, menahan lapar, menunggu adzan, sambil berbagi kurma dan air putih.
Baca Juga Tawon Vespa Mengganggu Warga, Petugas Damkar Ngadiluwih Bertindak
“Di sini penantian menunggu adzan maghrib berubah menjadi ibadah kolektif. Kita belajar bahwa menunggu pun bisa bermakna,” jelas ustadz Saiful.
Sementara untuk shalat Maghrib berjamaah menjadi poros vertikalnya. Para jamaah berdiri sejajar, melepas segala atribut dunia, menjadi hamba di hadapan Sang Pencipta.
Sedangkan buka bersama menjadi simpul horizontal yang merekatkan persaudaraan, menampilkan wajah bumi yang paling hangat.
Dengan demikian, tepat memasuki hari ke-22 Ramadan kemarin. Penutupan digelar dengan tahlil, shalawat mahallul qiyam, doa bersama, dan saling bermaaf-maafan.



















