Kreativitas jemaah Lamongan ini tidak hanya terbatas pada jemaah perempuan. Kelompok ini telah membagi identitas visual berdasarkan gender.
Yaitu jemaah perempuan menyematkan bunga mawar merah di bagian kepala kerudung atau topi.
Sedangkan jemaah laki – laki menggunakan slayer atau syal berwarna hijau kombinasi oranye yang dikalungkan di leher.
Langkah antisipasi ini dinilai sangat membantu ketua rombongan dalam memantau anggota mereka, mengingat padatnya jadwal ibadah dan risiko tersesat yang cukup tinggi bagi jemaah baru.
Baca Juga :Sinergi Pemkot dan APH, Pemilik Kos di Mojoroto Didorong Taat Aturan dan Jaga Lingkungan
Menanggapi fenomena mawar merah ini petugas Penyelenggara Ibadah Haji (PPIH) memberikan apresiasi atas inisiatif dan kearifan lokal tersebut.
Penanda mandiri seperti ini dianggap sangat membantu petugas di lapangan untuk mengidentifikasi asal daerah jemaah secara cepat.
Meski demikian, PPIH tetap memberikan pengingat tegas agar jemaah tidak lengah terhadap aturan utama yakni jemaah diwajibkan untuk selalu memakai gelang identitas logam resmi, membawa kartu jemaah dan membawa tas paspor ke mana pun mereka pergi.
“Yang penting rukun, kompak, dan saling menjaga satu sama lain selama menjalankan ibadah di tanah suci,” ujarnya.



















