Ronde Pak Petruk Cipto Roso Tulungagung, Berdiri Sejak 1955 dan Jadi Langganan Pejabat

Ronde Pak Petruk Cipto Roso Tulungagung, Berdiri Sejak 1955 dan Jadi Langganan Pejabat

“Tentunya saya tidak menyangka kalau usaha ini bisa sampai seperti ini, dikenal pejabat bahkan sampai dapat penghargaan sebanyak dua kali oleh mantan Gubernur Jawa Timur, tentu saya bersyukur,” ujarnya.

Selama 35 tahun berbisnis, Sutris menggantungkan hidupnya pada jualan ronde tersebut. Bahkan dia bisa membiayai pendidikan terhadap tiga anaknya yang bisa meraih gelar sarjana. Sejalan dengan itu pada tahun 2014, dia bisa berangkat ke tanah suci menunaikan ibadah haji dengan menyisihkan uang hasil penjualan rondenya sedikit demi sedikit.

Ronde Pak Petruk Cipto Roso itu sendiri buka dari pukul 17.00 WIB sampai dengan pukul 21.30 WIB atau tergantung porsi ronde yang dibawa sudah habis atau belum. Diketahui saat ini dia memiliki dua cabang yang mana satu cabang dia tempatkan di depan rumahnya dan dipegang oleh anaknya untuk melayani pembeli di sekitar rumah.

Read More

“Rencananya usaha ini akan dilanjutkan oleh keturunan saya, saya perkirakan nanti akan diteruskan cucu saya karena kelihatannya dia telaten dalam berbisnis,” jelasnya.

Disinggung terkait resep ronde yang dia jual, Sutris mengaku jika sebenarnya dia masih menggunakan resep autentik peninggalan ayah mertuanya. Bahannya terdiri dari kacang, jelly, kue bulat kenyal yang berisi kacang tanah dan kuah jahe.

Selain itu terdapat beberapa modifikasi yang dilakukan olehnya yakni terkait pewarnaan ronde yang mana dia tidak lagi menggunakan pewarna makanan pada ronde yang dijualnya.

Pasalnya, resep peninggalan ayah mertuanya itu berdasarkan resep ronde khas Semarang yang memiliki ciri khas warna-warni pada isian wedhang ronde. Tetapi dikarenakan dia mempersilahkan konsumennya untuk mengkritik dagangannya, akhirnya membuat dia memutuskan untuk sedikit mengubah resep yang ditinggalkan ayah mertuanya itu agar ronde yang dijualnya makin diminati masyarakat.

“Cuma warnanya saja yang dirubah, sisanya tetap sama. Dulu dapat kritikan dari orang Tionghoa katanya tidak usah diberi pewarna agar lebih sehat, akhirnya tidak saya kasih dan ternyata memang benar, setelah itu peminatnya semakin banyak,” ungkapnya.

Meski sudah 35 tahun mengelola bisnis tersebut dan sudah dikenal banyak orang dan bahkan para pejabat, namun usaha yang dijalankan Sutris itu bukannya berarti tidak mengalami kendala sedikitpun.

Pasalnya, saat ini penjualan ronde miliknya mulai meredup lantaran dulu pada tahun 90an, dia mampu menjual ronde sebanyak 200 mangkuk, perhari sekarang justru hanya terjual 50 mangkuk.

Pihaknya sendiri tidak mempermasalahkan atas terjadinya penurunan penjualan ini, mengingat roda selalu berputar dan dia memaklumi itu. Selain itu, saat ini juga semakin marak penjual ronde yang tentunya mempengaruhi penjualan ronde.

Untuk harga ronde yang dijualnya terbilang terjangkau yakni hanya Rp 6.000 per mangkuknya, sehingga dalam sebulan omset kotor yang diterimanya mencapai Rp 9 juta.

“Namanya usaha, disyukuri saja, usaha saya pernah ramai pada masanya, mungkin sekarang sudah waktunya meredup, yang terpenting setiap harinya tetap ada penghasilan, bagi saya itu sudah cukup,” pungkasnya.

Reporter : Mochammad Sholeh Sirri

Editor : Dhita Septiadarma

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *