Blitar, SEJAHTERA.CO – Pensiun dari pengajar tak membuat Siti Munawaroh tak berdiam diri. Warga Kelurahan Sukorejo, Kecamatan Sukorejo, Kota Blitar ini tetap berkarya. Dia membuka peluang usaha rumahan dengan bercocok tanam hidroponik. Hasilnya ternyata menggiurkan.
Sepintas suasana rumah Siti Munawaroh pensiunan guru tak jauh beda dengan yang lain. Halamannya juga tak luas. Rumahnya juga berdempetan dengan rumah lain.
Tetapi ketika menginjakkan kaki di lantai dua ada yang lain. Di atas dak atau lantai cor itu ada hamparan hijau lengkap dengan kerangka stainless.
Warna hijau dari sayuran hidroponik itu menambah asri lantai dua. Tak jauh dari tanaman sayur hidroponik ada pipa-pipa warna putih dengan air yang mengalir.
“Ya inilah kebun hidroponik saya. Dak di atas kos saya gunakan untuk lahannya,” kata Siti.
Perempuan kelahiran 64 tahun silam ini adalah sosok perempuan yang tak bisa diam. Sejak pensiun mengajar di SDN Sukorejo 3 Kota Blitar 2019 lalu, banting setir dengan menjadi petani.
Hanya saja petani yang tak punya sawah. Lahannya adalah lantai 2 di atas tempat kosnya. “Iya karena memang terkendala lahan, akhirnya menggunakan dak untuk bercocok tanam dengan sistem hidroponik,” kata ibu tiga anak ini.
Lantai 2 rumah seluas 6 x 20 meter itulah hari-harinya dihabiskan untuk bercocok tanaman sayuran hidroponik. Mulai sayuran selada, seledri hingga sawi.
Sayuran itu ditanam di media khusus dan mendapatkan penanganan ekstra. Ekstra karena harus telaten merawat.
Pasalnya sayurannya adalah sayuran hidroponik yang terkenal dengan ciri khasnya sehat dan tanpa pestisida.
Nenek dua cucu ini pun memaparkan awal mula bisnis hidroponik. Sejak pensiun 1 Agustus 2019 lalu, Siti sudah bertekad bulat bertani hidroponik.
Alasan utamanya simpel yakni tak ingin nganggur. Bahkan niat itu sudah terbenam sebelum pensiun. Hingga akhirnya beberapa saat kemudian memulai bisnisnya.
“Kan pada waktu itu pandemi Covid-19, banyak yang ingin konsumsi sayur sehat. Nah akhirnya saya tertarik. Saya melihat di media sosial soal hidroponik. Belajarnya dari YouTube,” kata perempuan berhijab ini.
Memanfaatkan dak lantai 2 di atas kos menjadi pilihan karena memang dirinya tak punya sawah atau lahan tanah luas. Awalnya membuat instalasi pipa sendiri. Tetapi ternyata gagal dan sayurannya banyak yang mati. Itulah tantangannya.
Meski kerap gagal panen, tetap berusaha. Akhirnya diapun memanfaatkan tenaga tukang untuk membuat instalasi dan green housenya. Dengan modal tak sampai Rp 2,5 juta sudah bisa memiliki green house lengkap dengan instalasi pipanya.
Di paralon dia lubangi dengan 700 lubang tanam. Di media itu dijadikan untuk pembibitan hingga panen. “Semua saya tangani, wong gampang. Ternyata kunci utamanya telaten dan rajin memantau nutrisi,” katanya.
Usahanya pun tak sia-sia. Berbekal nekat akhirnya beberapa bulan kemudian sudah bisa panen. Tanamannya rata-rata memakan waktu 3 sampai 4 bulan baru bisa panen.
Mulai selada, sawi hingga seledri. Hasilnya pun menggiurkan. Dalam sekali panen bisa mendapatkan uang sampai Rp 1,5 juta.
Biasanya beberapa minggu sekali bisa panen minimal sekali. Dari hasil itu bisa menyisihkan beberapa ratus ribu. Pasalnya untuk hidroponik juga menggunakan pompa listrik.
Saat ini harga jenis sayur yang ditanam mencapai Rp 10 ribu per kilogram. Dengan harga itu masih bisa mendapatkan untung. Bahkan pernah tembus Rp 15 ribu per kilogram.
Soalnya selama ini sudah punya pelanggan tetap. Seperti pedagang di pasar hingga penjual lalapan dan ayam penyet. Karena sayur hidroponik memang segar dan sehat.(ziz)



















