Tulungagung, SEJAHTERA.CO – Ikan hias dipelihara oleh penghobi karena memiliki daya tarik dari keeksotisannya. Karena itu ikan hias memiliki nilai ekonomis tinggi. Apabila mampu menghasilkan ikan hias dengan kualitas terbaik, peluang untuk ekspor ikan hias sangat terbuka lebar.
Pada Dusun Banayan, Desa Wajak Lor, Kecamatan Boyolangu, Kabupaten Tulungagung, terdapat rumah yang tampak sederhana dengan tanah yang luas. Pada depan rumah tersebut, pemiliknya dengan ramah mempersilakan awak media untuk masuk dan melihat-lihat.
Dia adalah Minto (46), dia sudah membudidaya ikan hias jenis ikan mas koki selama 37 tahun lamanya. Saat memasuki rumah Minto, terlihat hamparan kolam ikan mas koki yang luas ditambah semakin cantik berkat adanya akuarium yang berisi ikan hias.
“Saya memang suka dengan ikan hias, kebetulan kesukaan ini diturunkan oleh ayah saya, dia sudah lebih dahulu jadi pembudidaya, dan akhirnya menurun ke saya,” kata Minto, Selasa (17/10/2023).
Awalnya, usaha budidaya ikan hias tersebut didirikan oleh ayahnya pada tahun 1986 silam, saat itu usianya masih 9 tahun. Dikarenakan ayahnya kerap berkutat dengan ikan hias, lama kelamaan Minto kecil pun mulai tertarik dengan ikan hias, sehingga dia didapuk untuk meneruskan usaha ayahnya tersebut.
Setelah budidaya ikan hias tersebut diambil alih olehnya, sampai saat ini dia sudah memiliki koleksi ikan mas koki berjenis Oranda, Ranchu, Ryukin dan Demekin. Bahkan demi mengembangkan budidayanya tersebut, dia dibantu oleh 20 orang warga setempat untuk menghasilkan ikan hias kualitas ekspor.
“Ikan hias saya sudah dipasarkan di lokal pulau Jawa maupun ekspor. Untuk ekspor sudah pernah masuk ke Australia, Jepang, dan Inggris. Saat ini kami mencoba masuk ke Kanada dan Afrika,” jelasnya.
Meski sudah menuai hasil, bukan berarti usahanya itu selalu berjalan lancar, tapi selalu ada tantangan dalam dunia usaha. Baginya sebagai pembudidaya ikan hias, tantangan akan semakin terasa saat memasuki musim pancaroba dari musim hujan ke musim kemarau akhir-akhir ini.
Pada musim pancaroba, ikan hias yang dibudidaya itu rawan terserang penyakit merugikan. Ini membuatnya mau tidak mau harus memutar otak agar ikan-ikan hasil budidaya sehat dan tidak terserang penyakit parah.
“Karena belum ada obat, jadi kami pakai metode mengurangi air di kolam dan porsi makan ikannya juga dikurangi,” ujarnya.



















