Konsisten Pertahanan Batik Khas Daerah Sejak 1972, Pembatik Tradisional Bumi Menak Sopal Bertahan di Tengah Modernisasi

Konsisten Pertahanan Batik Khas Daerah Sejak 1972, Pembatik Tradisional Bumi Menak Sopal Bertahan di Tengah Modernisasi

Bahkan dalam sebulan, rata-rata satu pengusaha batik bisa menghasilkan sekitar 180 potong kain batik, mulai dari batik tulis maupun batik cap.

“Awalnya kita buat batik tulis, sampai saat ini masih banyak yang minat motif itu. Di sini ada sekitar 15 pengrajin batik yang membantu memproduksi,” ujarnya.

Meskipun memproduksi batik secara tradisional, namun pihaknya tak memungkiri pemasaran yang dilakukan melalui media teknologi seperti saat ini yang umumnya dilakukan untuk memperluas jangkauan pasar. Selain lewat online, dia menyebut pemasaran juga dilakukan melalui cara konvensional dengan menitipkan produk-produk pada galeri di sejumlah tempat.

Read More

“Kalau untuk harga satu kain batik di banderol dari harga dua ratus ribu rupiah sampai harga jutaan rupiah tergantung dari tingkat kesulitannya. Untuk mempertahankan kualitas, pembuatan sekitar satu minggu,” kata cucu Soekono, Ilma Abidin Cahya.

Selain mempertahankan eksistensi batik khas daerah, berbagai cara dilakukan agar produk yang dibuat semakin produktif sehingga pasar yang dijamah juga merambah kalangan milenial.

Untuk itu, dia mengaku sedang berupaya untuk menjamah segmen itu dengan cara mengombinasikan beberapa motif sehingga batik yang dihasilkan bisa dikatakan sebagai batik kekinian tanpa menghilangkan kekhasannya.

“Batik biasanya banyak di minati oleh orang tua. Namun di sini kami mengombinasikan motif batik khas Trenggalek yakni cengkeh dengan berbagai ornamen seperti gambar jaranan Turonggo Yakso biar anak muda sekarang lebih berminat,” pungkasnya.(*)

Reporter: Angga Prasetya

Editor: Dhita Septiadarma

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *