Bambang Wijanarko, Kelompok Yayasan Siswo Budoyo Memproduksi Web Series Seni Tayub untuk Menepis Citra Negatif

Bambang Wijanarko, Kelompok Yayasan Siswo Budoyo Memproduksi Web Series Seni Tayub untuk Menepis Citra Negatif

Tulungagung, SEJAHTERA.CO – Kesenian tradisional sangat menarik untuk dijadikan bahan edukasi. Itulah yang ingin ditunjukkan oleh Bambang Wijanarko melalui kelompoknya, Yayasan Siswo Budoyo lewat Web Series. Tujuannya untuk menepis citra atau image negatif tentang kesenian tayub.

Bambang Wijanarko, merupakan seniman teater dan ketoprak di Kabupaten Tulungagung, yang saat ini sedang sibuk menggarap web series dengan tema Seni Tayub di kota marmer. Bahkan proses syuting episode pertama sudah selesai dilakukan dan saat ini masuk proses editing.

Karya yang sedang digarapnya ini merupakan sebuah sinema ketoprak yang idenya sudah lama, tetapi baru bisa digarap pada pertengahan tahun 2023 ini. Hal ini tidak lepas dari dukungan Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Provinsi Jawa Timur dalam pembuatannya.

Read More

“Awal mula karya ini benar-benar kami buat saat tampil di Gedung Cak Durasim awal 2023, dimana saat itu saya berbincang dengan Kepala Disbudpar Provinsi Jatim dan saya usulkan karya saya ini yang ternyata disetujui,” kata Bambang Wijanarko, Senin (1/11/2023).

Pembuatan karya seni ini ditujukan untuk menghilangkan image negatif terhadap seni Tayup yang sudah beredar pada kalangan masyarakat.

Pasalnya yang terpenting pada pembuatan karyanya ini, pihaknya ingin memvisualisasikan seni Tayub Tulungagung yang murni kecantikan dan kepandaian dalam menari yang diiringi dengan musik.

Selain ingin menonjolkan kecantikan dan kepandaian dalam menari, pada karyanya ini pihaknya juga ingin menunjukkan jika terdapat kesakralan tersendiri yang akan diceritakan dalam web series yang dia garap. Dengan begitu, dia ingin menunjukkan jika tidak semua wanita bisa menjadi Ledek atau itilahnya penari/penyanyi kesenian tradisional.

“Berdasarkan cerita turun temurun, dulu kalau ada perempuan ingin jadi Ledek harus nyadran terlebih dahulu ke makam Nyi Roro Kembang Sore agar kecantikan Roro Kembang Sore itu bisa ada didalam diri Ledek saat menari,” jelasnya.

Terkait sisi negatif yang dipercayai banyak orang, pemain seni Tayub sendiri kerap disandingkan dengan minuman keras maupun hal-hal negatif lainnya.

Padahal seni Tayub sebenarnya justru jauh dari hal-hal negatif tersebut, mengingat proses sakral yang dilakukan para pemainnya sebelum memulai seni Tayub.

Bahkan, seni Tayub sebenarnya penuh dengan edukasi-edukasi lewat tembang-tembang yang dibawakan, dan kental dengan seni melalui tari yang dibawakan Ledek.

Hanya saja memang perlu diakui jika semi Tayub sudah mulai melenceng tidak seperti aslinya, dimulai sejak saat datangnya kolonialisme Belanda ke Pulau Jawa ratusan tahun silam.

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *