“Sebenarnya yang membawa hal negatif dalam seni Tayub itu sebenarnya kolonialisme itu. Namun itu malah diterima oleh masyarakat dan terus berkembang hingga sekarang,” ungkapnya.
Kendati proses syuting web series ini sudah selesai, dia sempat menghadapi berbagai kendala saat proses syuting, salah satunya dalam hal pembiayaan. Untungnya masalah ini bisa diselesaikan dengan support yang diberikan oleh pemerintah selama proses pembuatan web series tersebut.
Tidak hanya itu, selama proses syuting pihaknya juga sempat kesulitan mencari latar tempat yang bisa menggambarkan suasana masyarakat Tulungagung tahun 1.800-an dimana seni tayub masih belum berkonotasi negatif.
Hanya saja pihaknya berhasil menemukan lokasi yang tepat yakni di Desa Blendis, Kecamatan Gondang yang menjadi salah satu latar pembuatan web series.
“Disana (Desa Blendis) masih banyak rumah-rumah zaman dulu yang bawahnya tembok dan atasnya masih ‘gedek’. Selain disana, kita juga ada beberapa spot lain untuk syuting. Kalau suntikan dana dari pemerintah, kami optimis bisa menggarap sampai empat episode,” ujarnya.
Kendala yang dihadapi tidak hanya itu saja, pihaknya bahkan harus memutar otak selama menulis naskah atau script untuk dibawakan pemeran web series tersebut meski selama ini dia sudah kawakan dalam menyutradarai ketoprak. Hanya saja, baginya menulis cerita sebuah web series dan menulis cerita sebuah ketoprak memang sangat berbeda.
Meski masalah script pada akhirnya berhasil dihadapi, pihaknya masib harus dihadapkan terhadap masalah sinematografi yang akan ditampilkan pada web series tersebut.
Kendati demikian, saat ini web series tersebut sudah hampir siap dan bisa segera dinikmati masyarakat, sehingga dia berharap karyanya ini bisa menjadi edukasi bagi seluruh masyarakat.
“Kami ingin agar masyarakat yang menonton web series ini nantinya bisa menambah edukasi dan bisa mengenal seni Tayub yang jauh dari image negatif. Pada episode pertama ada 20 pemeran yang terdiri dari berbagai umur termasuk pelajar,” pungkasnya.(*)
Reporter : Mochammad Sholeh Sirri
Editor :



















