Sementara Toyib, Ketua Gakpotan Desa Paron menyebut, ritual ini diadakan setelah ada jeritan dari petani karena air dari sungai sudah tidak ada yang biasanya mengairi persawahan milik petani.
Selain itu, petani juga mendapatkan air dari sumber dengan cara disedot menggunakan mesin diesel.
“Karena semakin jauh dan sudah dalam, sehingga kita mengadakan sedekah dawet ini,” bebernya.
Toyib menyampaikan, ritual ini digelar dengan tujuan agar hujan turun dan membuat petani dapat tertolong.
Menurutnya, ritual ini dilaksanakan ketika ada keluhan dari petani karena kondisi air memang kering.
Sedangkan, ada makna menggunakan dawet sebagai ritual karena berdasarkan mbah (kakek/nenek) sumber disini yang manis-manis agar doanya dapat dikabulkan.
Tak hanya itu, tabur dawet yang dilakukan petani ini memang menjadi rumus untuk menyuruh air mulai dari dam dan sumber dengan nama jurunya air hulu sampai hilir (kelantung) siang, malam, sampai tidur supaya air dapat mencukupi petani serta alirannya lancar.
“Karena biaya berjasa maka petani punya rumus misal kelantungnya digerojok, maka segera hujan deras. Jadi kita menyebar dawet biar kelantung basah dan hujan deras,” ungkapnya.
Reporter: Rizky Rusdiyanto



















