Dalam jiwa manusia, kata dia, memang bisa dalam sekejap-sekejap berubah, menjadi serakah, cinta, damai, emosional, dan bahagia.
Setiap manusia akan merasakan setiap sekejap berdasarkan situasi dan kondisi yang mempengaruhinya.
Salah satu yang ada dalam diri manusia adalah anugrah rasa atau roso dengan melatih roso berarti melatih kesabaran, welas asih, kasih sayang dan seterusnya.
Mencintai lingkungan sekitar seperti, menyirami tumbuhan, bunga, pohon, seperti mencintai tubuh sendiri membuat manusia berinteraksi dengan alam untuk menjaga lingkungan tumbuh lebih indah.
Roso yang tumbuh seperti welas asih akan bisa diungkapkan agar menjadi sesuatu yang menimbulkan energy positif.
Tiga pelukis yang sedang pameran ini mengungkapkan dengan beragam ekspresi. Karya Ponco Wibowo, mengungkapkan tentang keselarasan manusia dengan alam, artinya saling memperhatikan terhadap lingkungan bisa menjadi bagian dari proses menyayangi apa yang ada di alam.
Menurutnya bicara tentang hidup tidak selalu tentang kehidupan manusia dan dinamikanya, tapi hidup juga bagaimana memaknai keselarasan manusia dengan kehidupan alam semesta.
Adanya dedaunan menandakan ada tanda kehidupan yang layak sebagai tempat membangun kehidupan dalam keluarga.
Di lukisan yang dipamerkan digambarkan ada manusia dan binatang, ada juga tentang daun, dan alam dengan gaya abtraks.
Sedangkan karya Yoyok Wibowo, lebih pada bagaimana ekspresi itu diungkapkan dengan gaya abstrak entah itu bercerita tentang alam, emosi, atau keindahan alam tetap dalam bentuk yang abtraks.
Sedangkan Cholis Rajab lebih menampilkan tentang lingkungan tumbuhan, pohon mungkin juga ranting-ranting yang selalu dilaluinya saat pergi untuk beraktivitas.
Setelah mereka mengungkapan roso, maka ikat dalam tali yang disaksikan oleh alam semesta dengan didoakan agar menjadi pertalian yang bermakna dalam kehidupan.
Editor: Gimo Hadiwibowo



















