Pihaknya menilai pembangunan gorong-gorong pada 2022 lalu, tidak memperhatikan akses lingkungan. Sehingga akar menjadi pendek dan rawan roboh ketika hujan deras. “Makanya kami minta pemkot untuk evaluasi. Gorong-gorong di timur itu dicor,” katanya.
Sementara itu, Kepala DLH Kota Blitar Jajuk Indihartati, soal pengeprasan pohon lain di timur alun-alun menunggu waktu yang tepat. Pasalnya dibutuhkan persiapan yang matang.
Pohon beringin di timur alun-alun ada setidaknya enam pohon. Selama ini pohon juga menjadi sarang bagi habitat burung blekok. “Saran dari pedagang kami tampung dulu. Nanti akan dikoordinasikan,” katanya.
Soal robohnya beringin karena akar yang terpotong menurut Jajuk masih sangsi. Dia menduga karena hujan deras angin kencang serta akar yang lapuk.
Seperti diketahui sembilan warga menjadi korban pohon beringin ambruk. Ketika asik berteduh dan membeli bakso, tiba-tiba beringin ambruk. Sembilan korban dibawa ke RSUD Mardi Waluyo Kota Blitar untuk ditangani. (Ziz)



















