“Meskipun saya tidak bisa melihat, tapi saya bisa merasakan keindahan dan kedalaman makna Al-Quran melalui sentuhan jari saya,” kata Gita menambahkan.
Hampir setiap waktu Gita membuka braille Al-Quran dengan penuh semangat. Jarinya meluncur di atas huruf-huruf timbul, membentuk kata demi kata yang mengandung hikmah dan petunjuk. Meskipun butuh waktu dan kesabaran ekstra, dia tidak pernah menyerah.
Baginya, setiap huruf adalah jendela menuju kebenaran. Kini dia-pun memetik hasilnya. Hampir tujuh tahun belajar, dia kini bisa menghafal hingga 4 jus.
“Sejak duduk di bangku kelas 1 saya belajar, sekarang sudah bisa membaca dengan lancar dan sudah bisa mengahafal 4 juz Al-Quran,” ujarnya.
Kisah dan semangat peserta didik berkebutuhan khusus dalam menggapai ‘cahaya’ keimanan di tengah gelapnya dunia itu dapat dijadikan inspirasi, serta mengajarkan tentang kegigihan dan ketabahan dalam menghadapi cobaan hidup.
Kegigihannya itu diharapkan dapat membuka mata semua orang untuk tidak memupuskan harapan di tengah keterbatasan.
“Pesan saya untuk teman-teman tetap semangat dan berikan yang terbaik,” pungkasnya
Reporter: Angga Prasetya
Editor: Dhita Septiadarma



















