Lambat laun ternyata sembuh dari DBD. Sejak saat itulah timbul niatnya untuk menanam jambu. Awalnya hanya beberapa pohon, meningkat menjadi puluhan bahkan ratusan.
Lahan luas menjadi nilai tambah. “Karena menanamnya juga mudah. Umur 2 tahun sudah berbuah,” katanya.
Saat ini Mufid memiliki sedikitnya 100 lebih pohon tersebar di sejumlah lahan. Tak hanya dirinya para tetangga juga ikut-ikutan menanam.
Saat ini ada sedikitnya 20 petani pohon jambu dengan ratusan tanaman. Jika ditotal jumlah pohon jambu di Desa Karangsono tembus hingga 800 batang.
Untuk perawatan juga mudah. Untuk menjadikan buah jambu tak busuk, cekatan dalam membungkus buah. Pasalnya ketika jambu mendekati masak, harus cepat membungkus.
Ketika usia sudah 2 tahun, jambu pun sudah bisa dipanen. Tanaman terus berbuah dan puncaknya ketika musim hujan. Dari ratusan pohon, dalam sehari Mufid mampu memanen hingga 2 kuintal. Omzetnya 2 juta per hari. Selain didatangi tengkulak dan pedagang, banyak yang langsung datang ke kebunnya. Alasannya selain murah juga merasakan sensasi petik buah sendiri.
Saat ini harga jambu dijual rata-rata Rp 3 ribu hingga Rp 8 ribu per kilogram. Jambu asal Karangsono selain dijual di kios buah juga diambil tengkulak. Pemasarannya mulai Blitar raya, Kediri, Malang hingga Tulungagung.
Reporter : Abdul Aziz Wahyudi
Editor : Gimo Hadiwibowo



















