Tiban, Kesenian Jadul Bertahan dari Gerusan Zaman

Tiban, Kesenian Jadul Bertahan dari Gerusan Zaman

Dia rela datang dari Ngunut, Kabupaten Tulungagung demi beraksi adu cetar di atas panggung.

“Senang saja, karena jarang ada. Makanya ketika ada kabar tiban, saya datang langsung,” katanya.

Dia mengatakan tiban digelar di tempat terbuka. Ukuran panggung biasanya 3 x 3 meter. Panggung dan ring  terbuat dari bambu dan ditutupi terpal.

Read More

Sementara alasnya dari karpet. Siapa saja boleh main tiban. Syaratnya harus mematuhi aturan.  Untuk saling pecut diberi waktu 5 menit.

Untuk menambah suasana tarung menjadi lebih seru, diiringi musik khas Jawa. “Kalau tidak punya pecut dipinjami panitia,” jelasnya.

Setiap pemain diwajibkan mencopot baju. Dan cambukan diutamakan di bagian belakang atau punggung. Sementara wajah dilarang.

Akibat cambukan, tak jarang punggung pemain banyak yang berwarna merah. Ada pula yang tergores bekas cambukan.

“Meskipun sakit tidak mengapa. Sudah biasa,” jelas pria kelahiran 40 tahun silam ini.

Dia menambahkan, dirinya aktif mengikuti tiban. Tak ada persiapan khusus seperti latihan. Ketika ada agenda segera berangkat.

Dia mengikuti tiban sudah dua tahun belakangan. Tak hanya di Blitar saja tetapi juga di Tulungagung dan daerah-daerah lain.”Dengan adanya paguyuban memudahkan ketika rencana tiban,” pungkasnya.

Reporter : Abdul Aziz Wahyudi

Editor : Gimo Hadiwibowo

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *