“Keduanya ini saling berkaitan karena jika cakupan imunisasi rendah maka dipastikan akan terjadi beberapa kasus PD3I. Dan alhamdulillah cakupan imunisasi rata-rata di Kota Kediri sudah cukup bagus namun ini akan terus kita tingkatkan,” terangnya.
Baca Juga: Ubah Kawasan Pemukiman Kumuh, Pj Wali Kota Kediri Paparkan Konsep Dasar Penanganan
Jika ditemukan kasus PD3I, dr Fajri menghimbau rumah sakit untuk terbuka terkait data dan informasi kasus PD3I. Untuk para surveilans diharapkan turut aktif melaporkan apabila menemukan kasus PD3I agar bisa segera dilakukan tindak lanjut.
“Diharapkan dengan adanya workshop ini ilmu yang sudah dipaparkan oleh para narasumber bisa diterima dan diaplikasikan dalam penemuan kasus PD3I. Selain itu bisa membangun jejaring kolaborasi antara seluruh layanan kesehatan di Kota Kediri terkait upaya penemuan kasus PD3I beserta pelaporannya,” pungkasnya.
Sementara itu, Rudy dari Puskesmas Kota Wilayah Utara merespon positif adanya workshop hari ini. Menurutnya workshop ini sangat diperlukan, khususnya bagi para pemegang program surveilans karena dapat menambah wawasan untuk penanganan kasus penyakit yang dapat dicegah dengan imunisasi. “Adanya kasus yang saat ini sedang marak terjadi di luar wilayah Jawa Timur seperti penyakit Polio dan Difteri harus kita segera antisipasi. Jangan sampai ini menjadi wabah ,” ujarnya. Untuk itu dengan upgrade ilmu hari ini, Rudy berharap dapat meningkatkan respon surveilans terhadap kasus -kasus PD3I agar tidak menyebar.
“Alhamdulillah sampai saat ini kita tidak menemukan kasus PD3I. Meskipun begitu, kita tetap melakukan antisipasi dan melakukan penanganan sesuai prosedur baik pemberian obat-obatan, pencegahan kepada warga masyarakat apabila suatu saat ditemukan kasus tersebut,” terangnya. Rudy berharap dengan kegiatan ini kasus PD3I dapat ditangani secara benar, tepat dan cepat agar tidak terjadi penyebaran.
Sebagai informasi, kegiatan workshop berlangsung selama dua hari yakni tanggal 24 Juli sampai dengan 25 Juli 2024. Dengan menghadirkan narasumber dari Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Timur di hari pertama serta Dokter Spesialis Anak dari Rumah sakit dr Soetomo di hari kedua.(*)


















