Ia mengaku jika tahun ini tantangan untuk masuk ke dalam jaringan kota kreatif dunia tidak mudah. Pasalnya, Ponorogo bersaing dengan 4 kota besar lainnya yakni Kabupaten Bantul, Buleleng, Kota Makassar, Malang, dan Kota Tangerang sebelum diusulkan.
“Setelah masuk ke tahap empat, saat ini kita masuk proses visitasi oleh tim panselnas untuk mencocokkan antara dosir (dokumen/berkas) dengan yang senyatanya di lapangan,” tambahnya
Baca Juga :Tulisan Alun-alun Kota Wisata Batu Berubah dan Semakin Cantik
Judha menegaskan, Reog Ponorogo menjadi nadi kehidupan untuk menggerakkan roda perekonomian warga Ponorogo.
Sebab ia mengakui, Ponorogo tidak memiliki potensi industri dan tambang, sehingga untuk mendongkrak perekonomian, Pemkab Ponorogo mengandalkan dari kreativitas budaya dan pariwisata.
“Jadi setelah vitisasi ini, mereka mencocokkan dokumen dengan data riil di lapangan kemudian ditentukan nilai tertinggi untuk diusulkan ke UNESCO,” jelasnya.
Baca Juga :Puluhan Perlintasan KA di Kabupaten Blitar Tak Berpalang Pintu
“Jadi Kemenparekraf nanti yang akan mengusulkan kabupaten/kota mana yang layak, dan saya rasa Kabupaten Ponorogo sangat layak sekali untuk diusulkan ke UNESCO,” pungkasnya.



















