Pria ramah ini menambahkan, untuk tenaga lain seperti tenaga Kesehatan sudah banyak. Seperti perawat, ahli gizi, fisioterapis dan lain sebagainya.
Jumlahnya sekitar 3 ribu. Namun, untuk dokter umum masih kurang. Berdasarkan grafik pasien, dalam sehari rata-rata jumlah pasien yang menginjakkan kaki di puskesmas tembus 100.
“Itu belum termasuk pasien yang menjalani rawat inap di sejumlah puskesmas. Belum ideal,” katanya.
Baca Juga :Pastikan Pilkada 2024 Berjalan Lancar, Kapolres Tulungagung Cek Gudang Logistik KPU
Nah, dengan minimnya jumlah dokter umum jelas kondisi itu tidak sebanding dengan jumlah pasien yang membutuhkan pelayanan kesehatan di puskesmas.
Yang paling dirasakan ketika ada pasien yang membutuhkan penanganan darurat. Maka dari itu, pasien yang tidak bisa ditangani di puskesmas dirujuk ke rumah sakit terdekat.
Untuk wilayah Blitar timur meliputi Kecamatan Doko, Selorejo, Kesamben, Sutojayan, Wlingi, Selopuro kerap dirujuk ke RSUD Wlingi. Termasuk di antaranya Blitar Selatan meliputi Sutojayan, Wates, Panggungrejo dan lain sebagainya.
Baca Juga :Mobil Elf Berisi 15 Orang Penumpang Terguling di KM 17 Persen Trenggalek
Sementara wilayah Blitar barat dirujuk ke RSUD Srengat. Meliputi Kecamatan Srengat, Sanankulon, Wonodadi, Udanawu, Ponggok, Nglegok dan lain sebagainya. Bahkan, beberapa di antaranya juga memilih ke rumah sakit milik daerah lain.
Sebenarnya, lanjutnya, untuk memenuhi kebutuhan dokter, dinkes kerap membuka lowongan kerja. Baik CPNS hingga pegawai pemerintah dengan perjanjian kerja atau PPPK.
Baca Juga :Sebanyak 75 Pemilih di Tulungagung Ajukan Pindah Memilih, DPT Berkurang 8 Pemilih
Tetapi kadang minat pendaftar minim. Contohnya di RSUD Srengat untuk formasi dokter radiologi taka da peminatnya. “Sejauh ini pelayanan tetap maksimal. Mudah-mudahan,” pungkasnya.



















