Dalam rilis itu disebutkan kondisi gelombang tinggi dipengaruhi adanya daerah konvergensi di Laut Jawa yang menyebabkan pertumbuhan awan hujan cukup signifikan utamanya di bagian timur.
Sementara pola angin wilayah Jatim umumnya bergerak dari Barat Daya – Barat Laut dengan kecepatan angin antara 7 – 29 knot. Kecepatan angin tertinggi terpantau di wilayah Perairan Masalembo, Perairan Bawean dan sebagian Laut Jawa.
Kondisi itu berisiko terhadap keselamatan pelayaran, termasuk aktivitas nelayan. Merespons itu, BPBD Trenggalek mengimbau kepada masyarakat nelayan maupun masyarakat yang beraktivitas di kawasan laut untuk selalu meningkatkan kewaspadaan.
Baca Juga :Amankan Elang Bido Sakit usai Tarung, Hari ini Diserahkan ke BKSDA Kediri
“Serta memantau perkembangan cuaca yang disampaikan petugas secara berkala,” kata Kepala BPBD Trenggalek, Triadi Admono.
Dengan pemanfaatan teknologi prakiraan cuaca itu, lanjut Triadi, dapat meminimalisir potensi terjadinya kecelakaan laut akibat cuaca ekstrim.
Baca Juga :Dua Bulan Terakhir BPBD Ponorogo Catat Ada 60 Peristiwa Tanah Longsor, Ini yang Paling Parah
Dengan kata lain, masyarakat nelayan lebih aman saat beraktivitas di laut. “Sehingga potensi kecelakaan laut dapat diminimalisir,” pungkasnya.



















