Para pekerja pun tak merasa canggung menggali tempat yang biasanya dikenal mistis bagi sebagian orang itu. “Alhamdulillah lancar, mohon doanya,” ucapnya.
Baca Juga :Pelaksanaan MBG Sepekan, Ketua Dewan Ponorogo: Proses Sesuai SOP
Pembongkaran diawali dengan menggali menggunakan cangkul. Usai kain kafan terlihat, langsung diangkat dan dipindahkan ke liang lahat yang telah disediakan. Jenazah ada yang masih dibalut kain kafan ada pula yang sudah memet atau kusut. Lokasi makam lama dengan baru sekitar 100 meter.
Kembali ke pernyataan Sutinah, sesuai rencana jembatan Kali Bambang bakal dibangun flyover. Nah warga sudah mendapat informasi rencana pembangunan sejak 2018 lalu.
Sejak saat itu warga pun berembug dan akhirnya pada 2022, pemerintah desa membentuk Pokmas untuk proses relokasi makam. “Sebenarnya 2022 bisa direlokasi. Tetapi terbentur dengan kepemilikan tanah,” katanya.
Baca Juga :Pembangunan Tahap Kedua Pedestrian Jalan Mastrip Tertunda, Ini Kata Sekda Kota Blitar
Makam selama ini berada di lahan Perhutani. Sehingga warga pun mengusulkan minta Perhutani agar ada untuk makam. Hingga pada 2024 lalu, Perhutani pun mewakafkan sebagian tanah untuk relokasi makam.
“Begitu turun langsung kami relokasi. Soal kapan flyover dibangun kami tak tahu. Karena kewenangan pusat,” imbuhnya.
Dia menambahkan, untuk biaya pembongkaran tak masalah. Karena para ahli waris sendiri sudah mendapatkan kompensasi atau bantuan sebesar Rp 1 juta per makam. Artinya pemerintah memberikan bantuan sosial untuk pelaksanaan pembongkaran makam.
Baca Juga :Beri Semangat, Pj. Walikota Batu Cek Logistik, Ransum dan Sarpras Tim Reaksi Cepat BPBD
Seperti diketahui, jalur Dusun Bambang, Desa Siraman ini merupakan jalur utama Blitar-Malang. Jalur ini cukup berliku. Tak jarang juga ada truk kerap ambruk karena memang jalannya menikung dan menurun. Dengan adanya flyover itu nantinya jalan langsung lurus dan tak lagi menurun.



















