Sebelumnya, ia pernah mencoba menggunakan kelapa dari Kalimantan yang ukurannya lebih kecil dan harganya lebih murah, namun kualitasnya tidak sesuai dengan selera konsumen.
“Lidah orang Lamongan ini peka, dulu pakai kelapa Kalimantan, bentuknya kecil, harganya murah tapi gak cocok,” ujar Diva, salah satu pembeli setia wingko buatan Sucipto.
Baca Juga :Kebakaran Salah Satu Spot Foto di Museum Angkut Berhasil Dipadamkan
Sucipto juga berharap pemerintah setempat memperhatikan potensi lokasi tempat ia berdagang. Lokasinya yang strategis di dekat Stasiun Lamongan dan Plaza Lamongan dapat dikembangkan lebih lanjut agar menarik lebih banyak pembeli.
“Harapannya pemerintah bisa mempercantik kawasan ini, misalnya dengan menambahkan lampu-lampu seperti di Malioboro Jogja,” harapnya.
Saat ini, terdapat sekitar 18 toko yang menjual jajanan khas Lamongan di sepanjang Jalan Panglima Sudirman. Dengan dukungan pemerintah, kawasan ini bisa menjadi ikon wisata kuliner yang menarik bagi warga maupun wisatawan.



















