Tirakat itu, katanya, bukan sekadar ritual batin. Ia juga belajar dari para pendahulu yang pernah membawakan karakter sang ratu. Dari mereka, ia tahu bahwa sosok Dewi Kilisuci harus mampu memancarkan kewibawaan, kesabaran, dan kedamaian.
“Penonton harus bisa merasakan auranya, bukan hanya melihat busananya. Itu yang saya pelajari,” lanjutnya.
Prosesi Larung Sesaji Gunung Kelud sendiri bukan sekadar perayaan tahunan. Ini adalah ritual warisan yang sudah berlangsung sejak zaman leluhur, sebagai wujud syukur sekaligus permohonan keselamatan dari masyarakat sekitar gunung yang masih aktif tersebut.
Dalam prosesi ini, tokoh Dewi Kilisuci menjadi simbol kesucian, pemimpin spiritual, dan penjaga keseimbangan alam.
Kehadiran Retnowati sebagai pemeran utama dalam ritual tersebut pun memberi warna baru. Banyak pengunjung, baik warga lokal maupun wisatawan luar daerah, mengaku terkesan dengan pembawaannya.
“Beda. Seperti benar-benar melihat sosok ratu yang turun dari kerajaan. Kalem, tapi kharismatik,” ujar salah satu pengunjung yang datang dari Blitar.
Di tengah modernitas yang terus bergerak cepat, Retno membuktikan bahwa generasi muda pun bisa ikut menjaga nyala tradisi. Ia tidak hanya tampil di atas panggung budaya, tapi juga menjalani nilai-nilainya.
Baca Juga :Mantan Kadispenda Lamongan Diperiksa KPK Terkait Dugaan Korupsi Gedung Pemkab Lamongan Lantai 7
“Saya percaya, kalau kita melakukannya dengan hati, tradisi tidak akan punah. Dia hanya perlu dijaga, dan itu tugas kita,” tutup Retno, dengan senyum tenang dan sorot mata yang lebih dewasa dari usianya



















