Selama ini, hari jadi kota ditetapkan tahun 1910, merujuk pada terbentuknya pemerintahan kabupaten di era kolonial Belanda.
Baca Juga :Pengendara Motor di Jombang Tewas Usai Tabrak Truk Parkir di Pinggir Jalan
“Karena ini informasi tertulis, nilainya istimewa. Tidak semua daerah memiliki bukti sejarah setua ini,” lanjutnya.
Baginya, sejarah bukan sekadar kenangan masa lalu, tetapi fondasi identitas yang membentuk jati diri masyarakat.
Lebih jauh, ia berharap temuan ini menjadi dasar untuk meninjau ulang hari jadi Jombang.
Menurutnya, dengan mengangkat kembali prasasti Poh Rinting dan Tengaran, masyarakat bisa mengenal akar sejarah yang selama ini mungkin terabaikan sebuah kisah yang menempatkan Jombang dalam lintasan panjang peradaban Jawa, bahkan sejak era Kerajaan Medang di bawah pemerintahan Mpu Sindok.
Di luar kafe itu, kehidupan Mojoagung sore itu berjalan seperti biasa. Namun bagi para peserta diskusi, mereka pulang dengan pandangan baru, bahwa tanah yang mereka pijak menyimpan kisah lebih tua dari yang pernah mereka bayangkan. Kisah yang diukir di atas batu hampir seribu tahun lalu, dan kini kembali bersuara.(*)



















