Pedro Matos pun demikian. Marcos menilai sang pemain bekerja dengan baik, meski belum sepenuhnya sempurna. Ia melihat potensi besar pada sentuhan bola dan visi bermain, namun juga mencatat pekerjaan rumah di sektor bertahan. Bagi Marcos, kekurangan bukan alasan untuk mencoret pemain, melainkan ruang untuk berkembang.
“Dia punya kualitas bagus. Tapi perlu bekerja sedikit di defense dan mencoba menjadi pemain yang lebih lengkap,” tuturnya. Kesempatan bermain, menurut Marcos, adalah bagian dari proses belajar itu sendiri. Pemain yang konsisten di latihan akan mendapat peluang, tak peduli seberapa sering namanya disebut sebelumnya.
Baca Juga :Jelang Pergantian Tahun, Polres Tulungagung Razia Miras dan Edukasi Penertiban Knalpot Brong
Pendekatan ini terasa kontras di tengah realitas Liga 1 yang sering menempatkan pemain asing sebagai pusat permainan. Persik sejatinya memiliki kemewahan: bisa memainkan hingga tujuh pemain asing. Namun Marcos memilih jalan berbeda. Ia memandang nasionalitas hanya sebatas administrasi, bukan tolok ukur kualitas.
“Nasionalitas hanya penting untuk memastikan tidak melanggar peraturan,” katanya lugas. Di ruang ganti, tak ada hierarki berdasarkan asal negara. Yang ada hanyalah pemain yang siap bekerja dan menjalankan peran.
Pandangan itu perlahan mengubah atmosfer tim. Persaingan menjadi lebih sehat, latihan terasa lebih hidup. Setiap pemain tahu bahwa kesempatan tak datang karena reputasi, melainkan performa. Bagi para pemain muda dan mereka yang lama terpinggirkan, ini adalah angin segar. Bagi pemain senior dan asing, ini menjadi pengingat bahwa posisi tak pernah benar-benar aman.
Marcos Reina Torres mungkin belum lama di Kediri, namun jejak pemikirannya mulai terasa. Ia membangun Persik dengan kesabaran dan keberanian, dua hal yang sering luput di tengah tuntutan hasil instan. Laga kontra Persis Solo menjadi isyarat awal: Macan Putih sedang belajar percaya pada proses.
Baca Juga :Sempat Meredup, Wisata Desa di Tulungagung Kembali Bergeliat, Ternyata ini Kuncinya
Di bawah arahannya, Persik Kediri tak hanya berusaha menang, tetapi juga menemukan kembali identitas. Sepak bola yang memberi ruang pada kerja keras, bukan sekadar nama. Dan di situlah, perubahan perlahan tapi pasti, mulai tumbuh.



















