Meski demikian, kenaikan harga ini belum berdampak signifikan terhadap penjualan elpiji subsidi 3 kilogram. Permintaan gas melon, menurutnya, masih relatif stabil.
Ia berharap pasokan elpiji non-subsidi tetap lancar, mengingat konsumennya tidak hanya berasal dari rumah tangga, tetapi juga pelaku usaha.
“Yang kami layani bukan hanya warga, tapi juga usaha. Kenaikan ini dari pusat dan Pertamina, bukan dari pangkalan,” tambahnya.
Hal senada disampaikan pemilik pangkalan lainnya, Sri Wahyuni. Ia mengaku rata-rata menjual lebih dari 40 tabung elpiji non-subsidi setiap bulan. Namun, sejumlah pelanggan mulai mempertanyakan kenaikan harga yang dinilai cukup tinggi.
“Yang beli biasanya tetangga dan rumah makan besar. Pasti ada yang tanya kenapa naiknya cukup banyak,” ujarnya.
Sebagai informasi, harga elpiji non-subsidi di tingkat pangkalan memang dapat bervariasi. Perbedaan tersebut dipengaruhi oleh biaya distribusi di masing-masing wilayah.



















